Hukum Air Musta’mal

Pendapat yang paling benar dalam hukumnya adalah bahwa air musta’mal itu suci dan menyucikan atau bisa dipakai bersuci. Adapun dalil bahwa air musta’mal adalah suci:
Dari Al-Miswar bin Makhramah radhiallahu anhu dia berkata:
وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, hampir-hampir saja mereka berkelahi memperebutkan air bekas wudhu beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 516)
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ
“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, dan tangan kami saling bersentuhan.” (HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 484)
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Sisi pendalilannya jelas: Seandainya air musta’mal najis, niscaya para sahabat dan Aisyah radhiallahu anhum tidak akan menggunakannya untuk bersuci.