ALIRAN SESAT  

 

KRITERIA SEBUAH ALIRAN DALAM ISLAM DIANGGAP SESAT

 

 

Berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  MUI Pusat di Jakarta tahun 2007, maka ditetapkan 10 kriteria sebuah aliran dalam Islam dianggap sesat. Ke 10 Kriteria itu adalah :

 

 

  1.  Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun  Islam

  2.  Meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i

      (al-Qur’an dan al-Sunnah)

  3.  Meyakini turunnya wahyu sesudah al-Qur’an

  4.  Mengingkari otentitas dan kebenaran al-Qur’an

  5.  Menafsirkan al-Qur’an tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir

  6.  Mengingkari kedudukan al-Sunnah (Hadits Nabi) sebagai sumber ajaran     

      Islam

  7.  Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul

  8.  Mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir

  9.  Mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah

      ditetapkan syai’at

10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil Syar’i

 

 

 

Pemicu munculnya Aliran Sesat.

 

            Pertama. Kurangnya pehatian tokoh agama pada ummatnya. Ketika orang yang dianggap sebagai  panutan ummat terkesan hanya sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri, golongan maupun menceburkan diri dalam ranah kancah politik , maka wajae segolongan awwam mencari pegangan sendiri. Kalangan awwam ini tidak mempersoalkan apakah ajaran baru itu menyimpang norrma-norma aqidah atau tidak. Yang mereka butuhkan aadalah untaian kalimat-kalimat sejuk dan perhatian dari orang yang dianggapnya panutan.

 

            Kedua. Aliran-aliran sesat itu bisa jadi muncul sebagai grand design pihak asing/non muslim untuk menghancurkan akidah ummat Islam Indonesia. Jika data statistik yang dijadikan patokan maka Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim terterbesar di dunia. Ada kekhawatiran bahwa peradaban Islam diprediksikan akan kembali berjaya sepeei dimasa Dinsati Abbasiyah (750-1258 M). Dan kiblatnya bukan lagi di kawasan arab melainkan Indonesia.

 

            Ketiga. Boleh jadi para penggagas aliraan sesat ini muncul hanya untuk mencari popularitas dan keuntungan pribadi. Sejak era reformasi bergulirdan rezim Soeharto jatuh, tidak sedikit orang yang merusaha mengail di air keruh. Saat siapa pun bebas berbicara, terbuka peluang orang untuk mempopulerkan diri. Napsu semacam ini tidaklah aneh.

 

Tugas Ulama dan Aparat

 

            Pertama, Para ulama mesti kembali kepangkuan ummatnya. Saatnya ummat diurus dan tidak boleh lagi menyalahkan satu sama lain. Ketua Dewan Fatwa MUI menasehatkan  pada peremuan Kiai si-Indonesia agar ulama harus seperti bulan yang menyinari seluruh alam. Bukan bintang yang hanya bersinar untuk dirinya sendiri saja. Cermah agamapun harus disampaikan dengan cara-cara yang sejuk, ramah dan damai, bukan dibayangi oleh ketakutan.

 

            Kedua, MUI, Departemen Agama, Aparat Negara  wajib merespons dengan cepat setiap muncul keresahan tentang penyimpangan akidah di masyarakat. Sikap lambat akan merugikan kalangan awam yang memerlukan kepastian soal kebenaran agama yang selama ini mereka yakini. Keterlambatan respon juga akan membuat masyarakat cenderung bertindak sendiri dan menjerumuskan mereka ke dalam anarkisme.

 

            Ketiga, Polri dan jajaran intelijen di negeri ini harus mewaspadai adanya strategi asing yang hendak merusak stabilitas nasional. Jika Indonesia sebagai Negara Muslim terbesar sukses mereka hancurkan akidahnya, maka negeri ini akan mudah diadu domba. Ingat negeri kita ini   terdiri dari ribuan pulau dengan beragam suku dan bahasa, yang tentu rentan dengan percikan api permusuhan.

 

 

 

Apa Yang Harus Kita Lakukan Jika Disekitar Kita Ada Penganut Aliran Sesat

 

1. Upayakan sadarkan mereka dan kembalikan mereka ke jalan Allah Swt.

2. Laporkan pada tokoh agama dan aparat.

3. Jangan bertindak sendiri. Upayakan setiap tindakan harus terkordinasi dengan    masyarakat, tokoh agama dan aparat.

4. Jangan main hakim sendiri dan bertindak anarkis, sebab yang demikian itu tidak sejalan dengan tuntunan dan ajaran agama Islam