Hukum Shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha Khusus Wanita

عن ام عطية رضي الله عنها قالت : أمرنا أن نخرج العواتق والحيض في العيدين : يشهدن الخير ودعوة المسلمين, ويعتزل الحيض المصلي.  متفق عليه

“Dari Ummi ‘Athiyyah ra, ia berkata : kami diperintahkan (oleh Rasulullah saw) untuk mengajak wanita-wanita, baik yang sudah baligh maupun baru mendekati baligh, sedang haidh atau tidak untuk melaksanakan hari Raya Idul Fitri dan Idul adlha : menyaksikan kebaikan dan da’wah muslimin. Sementara wanita-wanita yang sedang haid dipisah dari lapangan (tempat shalat).”    (Muttafaq ‘alaih)

 

 

العواتق : الفتيات الابكار البالغات والمقاربات البلوغ. وفي هذا دليل ضرورية تعليم المرأة ما تحتاجه من امر دينها وأن شهود المواعظ العامة ومجالس العلم من المهمات الضرورية لها. لتهذب أخلاقها ويرق قلبها. وتشترك مع الرجال في الانتفاع بما في هذا الحفل الديني من علم وهدي ورحمة[1]

“Al-‘Awatiq : gadis-gadis yang sudah baligh dan mendekat baligh. Hadis ini menunjukkan dalil keharusan wanita untuk mempelajari ilmu agama yang terkait dengan hajatnya. Dan bahwasanya menghadiri ceramah-ceramah umum dan majlis ta’lim juga keharusan bagi mereka. Agar terdidik akhlaqnya dan lembut hatinya. Dalam aktivitas perayaan keagamaan yang  memuat ilmu, petunjuk dan rahmat, kewajiban laki-laki dan wanita adalah  sama”.

 

 

ويخطب (ندبا) بعدهما : اي من يصلي جماعة من الذكور ولو مسافرين. فلا خطبة لمنفرد ولا لجماعة النساء الا ن يخطب لهن ذكر. فلو قامت واحدة منهن ووعظتهن فلا بأس

Dan disunnahkan dilaksanakan khutbah setelah shalat “id dua rakaat bagi laki-laki yang melaksanakan shalat “id berjama’ah, walau pun mereka musafir. Tidak disunnahkan khutbah bagi orang yang shalat sendirian dan bagi jama’ah (khusus) wanita kecuali khotibnya laki-laki. Namun diperbolehkan salah seornag diantara mereka (wanita) berdiri untuk menyampaikan nasehat.”[2]

Kesimpulan :

  1. Rasulullah sangat menganjurkan agar semua ummat Islam, baik laki-laki maupun wanita, termasuk yang tengah haidl untuk menghadiri pelaksanaan shalat “id agar semuanya medapat kebaikan dan mendengar da’wah Islamiyyah
  2. Wanita boleh melaksanakan shalat id berjama’ah khusus wanita. Dan disunnahkan khotibnya laki-laki.
  3. Diperbolehkan salah seorang dari jama’ah khusus wanita itu menyampaikan nasehat (ceramah) setelah  shalat, namun tidak dianggap sebagai “’khutah yang disunnahkan’.


 

HUKUM SHALAT ‘IDUL FITRI DAN ‘IDUL ADLHA KHUSUS WANITA

 

 

 

 

 

MATERI BAHSTUL MASA’IL

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGAJIAN BULANAN NU, 17 DESEMBER 2008 M/19 DZUL-HIJJAH 1429 H

 

MASJID NURUT TAQWA (MASJID AGUNG )  KEC. JONGGOL

 

MAJLIS WAKIL CABANG (MWC)                     NAHDLATUL ULAMA  KEC. JONGGOL   KAB. BOGOR

Sekretariat : Pondok Pesantren Al-Fathmahiyyah, Kp Menan Desa Sukamaju Kec Jonggol.  Telp. (021) 89931915, (021) 89930032,  0817 6693930


[1] Bulugh al-Maram, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqolani, h. 94

[2] Al-Bajuri ‘ala Ibn Qosim, Syaikh Ibrahim al-Bajuri, juz I, h.226, tt. Maktabah Usaha Keluarga, Semarang