ILMU DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

 I.                 Mukaddimah

Diantara kelebihan manusia  yang paling signifikan dibanding makhuk Allah yang  lain  adalah manusia di beri ilmu oleh Allah Swt. Dengan ilmu manusia dapat mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapinya selama hidup menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi ini. Dengan ilmu pula, manusia dapat mengatasi berbagai persoalan itu dan mengembangkan berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Makalah singkat ini sebetulnya berusaha menghidangkan berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu dengan menggunakan perspektif Al-Qur’an. Dengan kata lain, sebetulnya penulis berusaha menghidangkan secara singkat tafsir tematik tentang ilmu. Namun karena berbagai keterbatasan yang ada pada penulis, dengan jujur dan rendah hati penulis merasakan bahwa apa yang tertuang ini masih sangat memadai untuk disebut sebuah tafsir tematik. Yang terjadi, penulis baru menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang ada kaitanya degan ilmu. Namun tentu saja perspektif ini belum  tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Al-Qur’an, mengingat dengan segala keterbatasan apa yang dipaparkan nanti adalah perspektif yang dapat penulis tangkap dari Al-Qur’an. Selain dari itu, pembahasan dalam makalah ini juga masih bersifat umum. Tidak mendetil seperti umumnya tafsir maudhu’i.

Untuk itu, karena makalah ini merupakan tugas dari dosen   penulis   pada mata   kuliah tafsir maudhu’i,terlebih dahulu penulis memohon maaf kepada Ibu DR.Hj.Faizah Ali Syibroalisi ,MA karena ternyata kemampuan penulis tidak seperti yang beliau harapkan. Kendatipun sudah membimbing penulis secara maksimal.

Dengan demikian, penulis  dengan senang hati menerima bahkan sangat berharap makalah ini dikritik oleh teman-teman dan tentu saja oleh dosen penulis.

II.   Definisi Ilmu

Kata ilmu rsasal dari bahasa arab  “ilm  yang berarti pengetahuan.  ‘Ilm adalah lawan kata dari jahl   yang berarti tidak mengetahui. Kata ‘ilm sering disepadankan dengan kata  fiqh, tetapi lebih sering disepadankan dengan ma’rifah.

III.  Kedudukan  Ilmu

      

  1. A.    Keutamaan  Ilmu 

                                                                                                     

Banyak sekali rangkaian ayat al-Qur’an yang menunjukkan betapa besar  keutamaan ilmu. Besarnya porsi  penyebutan persoalan ilmu menunjukkan besarnya perhatian al-Qur’an terhadap ilmu. Misalnya tergambar dalam rangkaian ayat yang menjelaskan proses penciptaan manusia. Dengan demokratisnya Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa Ia akan menjadikan manusia (Adam) sebagai khalifah dimuka bumi. Mulanya malaikat terkesan kebeatan dengan kebijakan Allah Swt itu. Namun setelah Allah Swt mengajarkan kepada Adam pengetahuan tentang nama-nama dan Adam mendemonstrasikan kemampuannya kepada malaikat, akhirnya malaikatpun  tunduk dan patuh terhadap kebijakan Allah swt. Sebagaimana firman-Nya :

.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Q.S. Al-Baqoroh  (2) : 31)  

Betapa tinggi kedudukan ilmu juga tergambar  dari betapa seorang nabi telah dapat memprediksi dengan ilmu yang diberikan allah kepadanya tentang siapa yang akan menjadi raja kelak. Firman Allah Swt :

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan  dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman  (Q.S. Al-Baqoroh (2) : 247)

          

Menurut al-Qur’an, orang yang diberi hikmah oleh Allah Swt, berarti ia telah beri kebaikan yang banyak. Dan Allah hanya memberikannya kepada orang yang  dikehendakinya. Dan ini tidak dapat dicerna melainkan hanya  oleh orang orang yang berfikir. Firman Allah Swt :

..

. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan      hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah.      (Q.S.Al-Baqoroh (2):269) 

    

Tingginya kedudukan ilmu juga tercermin pada ayat berikut yang menerangakan bahwa hanya Allah dan orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam   yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih.
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.  (Q.S. Ali Imran (3) : 7)

. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.
(Q.S. Al-Nisa (4) ; 162)

 

 

Dalam kasus Nabi Ya’qub, karena ia telah diberi pengetahuan oleh allah Swt  dalam memerintahkan anak-anaknya.  Perintah inilah yang akhirnya membewa Ya’qub bertemu kembali dengan  putranya yang hilang Yusuf as. Firman Allah Swt :

Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui
(Q.S. Yusuf  (12) : 68)

Cerminan tentang betapa tinggi kedudukan ilmu juga terlihat pada ayat berikut, dimana Allah menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang berpengetahuan yang dapat memahami al-Qur’an. Bahkan mereka tersungkur sujud bila dibacakan kepada mereka al-Qur’an. Firman Allah Swt :

 Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (Q.S.Al-Isra’  (17) : 107)

Karena itu, hanya orang yang memiliki pengetahuan yang yakin bahwa al-Qur’an itu bukan buatan manusia melainkan dari Allah Swt. Ini juga menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu. Firman Allah Swt :

 Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Hajj (22)  54)

 

 

Wajarlah jika  Nabi Daud dan Sulaiman teramat bersyukur atas anugrah ilmu pengetahuan yang Allah berikan kepada mereka. Hal itu digambarkan oleh Allah dalam :
.

 Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.  (Q.S. Al-Naml (27) :15)

Dalam pada itu, kedudukan ilmu yang tinggi juga digambarkan oleh Allah pda kasus Nabi Sulaiman ketika ingin memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Mulanya Ifrit, makhluk sebangsa jin menawarkan kepada Sulaiman bahwa ia dapat memindahkan singgasana ratu Bilqis sebelum Nabi Sulaiman bernjak bangun, tetapi oleh oleh orang yang memiliki ilmu singgasana itu dapat dipindahkan sebelum Nabi Sulaiman mengalihkan pandangan. Firman Allah st :

. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Q.S. Al-Naml  (27) : 40)

 

Karena kedudukan imu yang sedemikian ruap, maka ilmu diberikan kepada orang yang telah cukup memiliki kedewasaan. Seperti yang terjadi pada Nabi Musa as. Firman Allah Swt :

.

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  (Q.S. AlQoshosh  (28) :14)

 

 

 

Dalam ayat lain al-Qur’an menggambarkan bahwa dengan ilmu, orang dapat berlaku arif sehingga memahami bahwa anugrah Allah berupa pahala hanya dapat digapai dengan kesabaran  :

. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.”  (Q.S. Al-Qoshos  (28)  :80).

Al-Qur’an menjelaskan, dengan pengetahuan yang dimiliknya, orang dapat mengerti bahwa yang pa patut di sembah hanya Allah. Orang yang menyembah Tuhan selain Allah ibarat  laba-laba yang

Membeuat rumah dan merasa rumahnyalah yang paling kokoh, padahal rumahnya adalah  rumah yg paling rapuh. Firman Allah Swt :

. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut (29):41)

 

 

Dan perumpamaan-perumpamaan ini hanya dapat dimengerti oleh   orang yang perpengetahuan . Firman Allah Swt :

. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S.Al-Ankabut (29) : 43)

 

. Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.  (Q.S. Al-Ankabut (29) ; 49)

 

Masih banyak ayat-ayat lainyang menunjukkan kedudukan ilmu, diantaranya :

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.
(Q.S. Al-Ankabut  (29) : 64)

 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (Q.S. A-Rum  (30) : 56)

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.  (Q.S. Saba’  (34):56)

 

 

. (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran . (Q.S. Al-Zumar   (39) :9)

. Mengajarnya pandai berbicara.  (Q.S. Al-Rahman (55) : 4)

 

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.  (Q.S. Al-‘Alaq  (96); 4)

 

 

     B. Kedudukan Orang Alim

Sebagaimana ilmu yang mendapatkan tempat yang tinggi ,begitupun orang yang memilikinya.Mengenai hal ini,terdapat banyak ayat al-Qur’an mengungkapkannya.Antara lain dalam firman Allah Swt :

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.  (Q.S. Al-Baqoroh  (2) : 247)

 

 

Ketika orang yang memiliki ilmu mengemalkan ilmunya dengan lurus dan meyakini kebenaran pengetahuannya, maka ia akan sampai pada kesimpulan penyaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt :

 

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[ (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.Ali Imran (3): 18)

 


Sebaliknya, jika orang-orang yang berpengetahuan tidak jujur terhadap apa yang mereka ketahui serta menyembunyikan pengetahuannya, al-Qur’an mengecam mereka dengan memasukkan mereka kedalam kelompok orang-orang yang berlaku amat buruk. Firman Allah Swt :

. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.
(Q.S. Al-Ma’idah (5) : 63)

Lebih jauhnya, al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang diberi pengetahuanlah yang dapat menangkap sinyal-sinyal pengulangan ayat. Firman Allah Swt :

Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Al-An’am (6) : 105)

 

 

Karena itu, ketika mereka mendengar ayat-ayat dibacakan kepada mereka, dengan serta merta mereka menerimanya. Bahkan saking fahamnya mereka membuta mereka begitu tergetar hatinya sehingga meeka langsung sujud tunduk kepada Allah setelah mendengar ayat-ayat itu dibacakan. Sungguh keadaan yang menggetarkan. Firman Allah Swt :

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.(Q.S.Al-Isro(17):107)

 

Wajar jika kemudian al-Qur’an memposisikan orang yang berpengeahuan dijadikan tempat bertanya tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Dalam pada itu al-Qur’an juga melarang melakukan sesuatu yang belum diketahui sebelum konfirmasi terlebih dahulu keada orang yang berpengetahuan. Fiman Allah Swt :

Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.                          (Q.S.Al-Anbiya (21): 7)

Demikian ini disebabkan orang yang berpengetahuan dan mendapat petunjuk Allah yang yakin akan kebenaran al-Qur’an :

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Hajj (22) : 53)

Kelebihan  orang yang diberi pengetahuan tergambar dalam kisah  Nabi Sulaiman as ketika ia bermaksud memindahkan singgasana kerajaan  ratu Bilqis agar ratu Bilqis terkesan kepadanya  dan

mau beriman kepada Allah Swt :

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Q.S. Al-Na,l (27) : 40)

 

Dan masih banyak lagi ayat-aya al-Quran menjelaskan kedudukan orang yang memiliki pengetahuan. Diantaranya :

Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. (Q.S. Al-Naml (27) : 53)

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  (Q.S. Al-Qoshos (28) : 14)

 

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.”
(Q.S. Al-Qoshos (28) : 80)

 

. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S. Al-Ankabut (29) :43)

 Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Ankabut (29) : 49)

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (Q.S. Fathir  (35) : 29)

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
(Q.S.Al-Zumar  (39)  : 9)

Walhasil, kedudukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan diangkat bebeapa derajat oleh Allah Swt asalkan ia mau beriman. Sebagaimana Firman Allah Swt :

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadilah (58) :11}

 

C. Menuntut Ilmu Dan Mengamalkannya

 

Pada bagian terdahulu telah dipaparkan bagaimana kedudukan ilmu dan orang yang di beri pengetahuan, maka dalam pemaparan ini al-Qur’an menjelaskan bahwa harus di cari dan setelah didapatkan (karena di beri oleh Allah Swt) harus diamalkan. Seperti digambarkan dalam ayat berikut :

 Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.                              (Q.S. Al-Baqoroh (2) : :151)

Al-Qur’an memerintahkan ilmu dicari sekalipun adanya bukan ditempat dia tinggal.

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. Ali Imron (3) : 137)

 

Karena itu Allah Swt sangat mengecam orang-orang ilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya. Sebagaimana tercermin pada kecaman Allah Swt kepada para pendeta yang membiarkan orang yang berdusta dan memakan harta haram. Allah berfirman:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (Q.S. Al-Ma’idah  (5) : 63)

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-A’raf  (7) : 175)

 

 Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Q.S Al-A’raf  (7)  176)

 

Untuk menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu, al-Qur’an memerintakan agar disetiap-tiap kaum ada orang yang pergi menuntut ilmu. Firman Allah Swt :

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjagadirinya.(Q.S.Al-Taubah(9):122)

 

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.  (Q.S. Al-Isra  (17) : 12)

 

 

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”  (Q.S. Al-Kahf  (18)  : 66)


Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu   dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”  (Q.S. Thaha

(20) : 114)

 Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya  adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  (Q.S. Al-Jumu’ah (62) : 5)

 

II. Majlis   Ilmu    Dan   Tempat   Pendidikan

 

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (Q.S. Al-Mujadilah  (58)  : 11)

 

 

 

Larangan    Memutus   Pembicaraan   Guru

 

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
(Q.S. Al-Kahf  (18) : 70)

 

III. Menyampaikan     Ilmu

 

 

       A.Yang Hadir   Menyampaikan  Kepada  Yang  Tidak  Hadir

 

       B. Hukum     Menuntut   Ilmu   Fardhu   Kifayah

 

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.   (Q.S. Al-Taubah   (9) : 122)

      C. Menyembunyikan    Ilmu

 Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri[97]. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.  (Q.S. Al-Baqoroh  (2) : 146)




Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati (Q.S. Al-Baqoroh (2): 159)

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (Q.S. Al-Baqoroh  (2) 174)

 

Hai Ahli Kitab,  mengapa  kamu       mencampur      adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?                           (Q.S. Ali Imran  (3) : 71)

 

 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.  (Q.S. Ali Imran  (3) :  187)

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.

(Q.S. Al-Nisa  (4) : 37)

 

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatny]. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa]. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.

(Q.S. Al-Nisa  (4) : 46)

 Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.  (Q.S. Al-Ma’idah  (5) : 15)

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Ma’idah  (5) :  44)

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Ma’idah (5) : 67)

 

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.  (Q.S. Al-An’am  (6)  : 114)

 

Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?(Q.S.Al-A’raf(7):169)


IV. Etika   Ilmu

Memperhatikan   Kondisi  Pendengar

. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.   (Q.S. Al-Kahf  (18) : 67)

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”  (Q.S.Al-Kahfi  (18) : 73)

 Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”  (Q.S.Al-Kahf (18) :82)

Oleh sebab  itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat (Q.S.AlA’la (87):9)

 

     B. Kelapangdadaan  Orang  Alim

 

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.   (Q.S. Al-A’raf  (7) : 199)

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.
(Q.S. Al-Kahf  (18) 67)

 

Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (Q.S. Al-Kahf  (18) : 72)

 

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. (Q.S.Al-Kahf (18) : 73)

 Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (Q.S. Al-Kahf (18) :75)

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
(Q.S. Al-Kahf   (18) : 78)

C. Semua  Ilmu   Kembali  Kepada   Allah  Swt

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (Q.S. Al-Baqoroh  (2)  :32)

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Q.S.Ali Imron  (3)  : 5)

 Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Q.S.Ali Imron (3) : 7)

 

 

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui]? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. Ali Imron (3) : 66)

. Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Nisa (5) : 25)

 Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).(Q.S.Al-Nisa(5);45)

. “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-A’raf (7) : 62)

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 187)

Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.  (Q.S. Yunus  (10) :40)

 

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.  (Q.S. Yusuf.(12):76)

.Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu erangkanitu.” (Q.S. Yusuf (12) :77)

 

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Q.S.Yusuf (12) :96)

 

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
(Q.S. Al-Nahl  (16) : 70)

 

. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Q.S. Al-Nahl  (16)  : 91)

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja.” Bahkan kebanyakan mereka tidak amengetahui. (Q.S.Al-Nahl  (16) : 101)

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Nahl  (16) : 125

Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan meng’azabmu, jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.  (Q.S. Al-Isra’  (17) : 54)

Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. Al-Isra’ (17) : 53)

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Q.S. Al-Isra’  (17) : 60)

. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[ masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S.Al-Isra’ (17) : 84)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Q.S. Al-Isra’ (17) : 85)

 

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Q.S.Al-Anbiya’  (21) :80)

 

     D. Pengamalan  Orang  Yang  Berilmu

Meiliki ilmu dan mengamalknnya adalah sesuatu yang berbeda. Tidak sedikit orang yang tidak memiliki ilmu ingin beramal dan akhirnya apa yang diamalkannya tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Sebaliknya tidak jarang orang yang diberi ilmu tidak mau mngamalkan ilmunya. Bahkan apa yang dikatakannya dan dilaksanakannya sangat jauh dari ilmu yang dimilikinya. Atau dengan kata lain,terjadi ketidak keselarasan antara ucapan dan perbuatannya. Mereka memerintahkan tetapi meraka tidak melaksanakan. Mereka melarang tetapi mereka melaksanakan. Karena itu Allah sangat mengecam mereka :

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?  (Q.S.Al-Baqoroh (2) : 44)

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.  (Q.S. Ali Imran (3) : 18)

 

 

Dalam sisilain, Allah juga memuji orang yang konsisten menjlankan ilmunya  :

.

.Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Q.S. Al-A’raf (7) : 159)

 

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (Q.S. Al-A’raf (7) : 181)

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”   (Q.S. Fushshilat  (41) : 33)

 

Dalam pandangan al-Qur’an, orang yang tidak selaras antara  pengetahuannya, ucapannya yang didasari oleh pengetahuan tetapi tidak selaras engan perbuatannya dianggap melakukan dosa besar.  Sebagaimana firman Allah Swt :

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  (Q.S. Al-Shoff  (61) : 2)

 

 Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.  (Q.S. Al-Shaff  (71) :3)

Bahkan  al-Qur’an mempersamakan mereka bagaikan keledai yang membawa  kitab-kitab yang tebal. Ini menunjukkan betapa ketidak sukaan al-Qur’an terhadap perilaku meraka. Firmannya :

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  (Q.S. Al-Jumu’ah  (2) : 5)

 

      E. Kewajiban   Orang   Alim    

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.  (Q.S. Al-A’raf (7): 159)

 

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.  (Q.S. Al-A’raf  (7) : 164)

 

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.  (Q.S. Al-A’raf (7) : 181)

 

   V.  Pengetahuan  Manusia Sangat  Terbatas

Sebagai bekal untuk manjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi Allah membekali manusia dengan ilmu. Namun ilmu yang di berikan Allah kepada manusia sangat sedikit. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an :

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Q.S. Al-Isra (17) :  85)
Keterbatasan manusia pengetahuan manusia , disamping terhadap masalah ruh seperti diungkapkan oleh ayat diatas, juga erhadap hal-hal yang gaib. Bahkan Allah Swt menandaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui hal-hal yang gaib.  Al-Qur’an menjelaskan :

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An’am  (5)  : 59)

 

 Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (Q.S. Al-An’am (5) : 60)

Jangankan terhadap hal yang ghaib, pengetahuan manusia terhadap apa yang ada dirahim wanitapun terbatas. .Hal ini tercermin dalam al-Qur’an :

 

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Q.S. Al-Ra’d  (13) : 8)

 

Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Q.S. Al-Ra’d  (13)  : 9)

Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. (Q.S. Al-Ra’d  (13) : 10)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Luqman  (31) : 34)

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

– Al-Qur’an  dan Terjemahnya ,  Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, 1979

– Al-Mu’jam al-mufahros li alfadz al-Qur’an,Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar al-Ma’rifah,

Beirut, 2000

–  Sofwatu al-tafasir, Muhammad Ali al-Shabuni, Dar al-Fikr, Libanon, 2004

–  Ensiklopedi Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2002

ILMU  DALAM PERSFEKTIF AL-QUR’AN

 

Makalah dipresentasikan Pada Mata Kuliah

 

TAFSIR    MAUDH’I

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

Aim  Za’imuddin

 

Dosen  Pembimbing

 

DR.HJ. FAIZAH ALI SYBROMALISI

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

KONSENTRASI  ULUM AL-QU’AN    DAN  ULUM AL-HADITS

INSTITUT  ILMU AL-QUR’AN     (IIQ)

JAKARTA

2007

 

ILMU  DALAM PERSFEKTIF AL-QUR’AN

 

Makalah dipresentasikan Pada Mata Kuliah

 

TAFSIR    MAUDH’I

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

I r w a n

 

Dosen  Pembimbing

 

DR.HJ.FAIZAH ALI SYBROMALISI

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

KONSENTRASI  ULUM AL-QU’AN    DAN  ULUM AL-HADITS

INSTITUT  ILMU AL-QUR’AN     (IIQ)

JAKARTA

2007