KHUTBAH IDUL ADLHA 10 DZUL-HIJJAH 1429 /9 DESEMBER 2008 M

PERUMAHAN CITRA INDAH JONGGOL

MENGAMBIL TAULADAN NABI IBRAHIM AS

 

الله أكبر 9  مرات , الله أكبر كبيرا  والحمد لله كثيرا  وسبحان الله بكرة وأصيلا

الحمد لله …..

قال الله تعالي في القرأن الكريم , أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. واذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلي كل ضامر يأتين من كل فج عميق. ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في ايام معلومات علي ما رزقهم من بهيمة الأنعام, فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير.          الحج :27-28

الفطر يوم يفطر الناس, والأضحي يوم بضحي الناس.  رواه الترمذي

 

الله اكبر , الله أكبر , الله أكبر  ولله الحمد

 

Berbicara mengenai hari raya Idul Adha, tentu tidak terlepas dari pembicaraan mengenai sosok Nabi Ibrahim as. Dari beliau terlahir generasi’anbiya’. Termasuk Nabi Musa as, Isa as dan Muhammad saw. Wajarlah bila kemudian beliau bukan cuma populer dikalangan ummat Islam, melainkan juga populer dikalangan ummat Yahudi dan Nashrani.

Dalam syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad, paling tidak ada 3 hal yang diadopsi dari syari’at Nabi Ibrahim as. Yaitu khitan, ibadah haji yang puncaknya kemarin (wukuf diArofah), dan ibadah Qurban yang sebentar lagi akan kita laksanakan sampai hari kamis mendatang.

Dalam kesempatan ini, saya tidak akan membahas 3 hal itu. Karena ketiga hal itu tentu sudah banyak dibahas oleh para Ustadz/Kiai diberbagai kesempatan. Terlebih dibulan ini. Saya ingin mengajak jama’ah untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari Nabi Ibrahim as.  Ini selaras dengan perintah Allah yang akan saya jelaskan lagi.

Nabi Ibrahim as berasal dari Babilonia, salah satu pusat peradaban masa itu selain Mesopotamia, yang kemudian dikenal sebagai wilayah Mausul. Kawasan itu terletak di antara sungai Efrat dan Tigris/Dajlah yang kini menjadi bagian negara Irak. Penguasa pada masa Ibrahim adalah raja besar, Namrud bin Kusy. Ayah Ibrahim, Azar, adalah pematung istana. Dialah pembuat arca yang disembah oleh raja dan rakyatnya.

Ibrahim as seorang yang kritis pada masalah ketuhanan. Ia menggugat ayahnya yang menyembah patungbuatannya sendiri. Di masa remaja, Ibrahim menghancurkan patung-patung istana, lalu mengalungkankapak penghancurnya di leher arca terbesar. Ketika disidang, Ibrahim berkilah bahwa yangmenghancurkan arca-arca itu adalah arca terbesar. Ia minta Namrud untuk bertanya pada arcabesar itu. Tentu semua menjelaskan bahwa patung itu tak dapat berbuat apa-apa. Jawaban itu dibalik oleh Ibrahim dengan bertanya, mengapa patung yang tidak dapat berbuat apa-apa harus disembah.

Riwayat yang ada menyebut Ibrahim dihukum bakar. Selama ini semua kalangan meyakini bahwa mukjizat Allah telah menyelamatkan Ibrahim dari kobaran api itu. Setelah peristiwa itu, Ibrahim lalu hijrah ke Palestina.

Perjalanannya dipenuhi dengan proses pencarian Tuhan secara kritis yang dilukiskan dengan sangat indah oleh Quran. Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri: apakah kerlap-kerlip bintang di langit itu Tuhan? Hal yang dibantahnya sendiri begitu malam berlalu dan bintang itu tenggelam. Hal serupa dipertanyakannya ketika bulan muncul, juga ketika matahari merekah. Semua itu mengantarkan. Ibrahim pada sebuah kesimpulan: Tuhan adalah yang menciptakan semua itu.

وإذ قال إبراهيم لأبيه آزر أتتخذ أصناما آلهة إني أراك وقومك في ضلال مبين.  وكذلك نري إبراهيم ملكوت السماوات والأرض وليكون من الموقنين.  فلما جن عليه الليل رأى كوكبا قال هذا ربي فلما أفل قال لا أحب الآفلين.   فلما رأى القمر بازغا قال هذا ربي فلما أفل قال لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين. فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر فلما أفلت قال يا قوم إني بريء مما تشركون.  إني وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين.             الأنعام (6):74-79

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kekritisan Nabi Ibrahim tidak terhenti disitu. Setelah menjadi Nabi dan Rasul pun Ibrahim as tidak meninggalkan kekritisannya. Suatu waktu beliau memohon kepada Allah Swt agar diperlihatkan bagaimana Allah Swt menghidupkan makhluk yang sudah mati:

وإذ قال إبراهيم رب أرني كيف تحيي الموتى قال أولم تؤمن قال بلى ولكن ليطمئن قلبي قال فخذ أربعة من الطير فصرهن إليك ثم اجعل على كل جبل منهن جزءا ثم ادعهن يأتينك سعيا واعلم أن الله عزيز حكيم. البقرة (2):260

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Sebagai seorang Nabi yang ma’shum, tentu Nabi Ibrahim tidak iseng-iseng dengan permohonannya itu. Ada hikmah dan rahasia dibalik semua itu. Kemudian permohonan Nabi Ibrahim oleh Allah Swt dikabulkan. Walau sebelumnya Allah Swt ‘menyentil Ibrahim as. Kisah ini kemudan oleh Allah di abadikan dalam al-Qur’an yang merupakan tuntunan utama ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad saw.

Dalam pandangan saya, Nabi Ibrahim berusaha  berusaha dan menyembah Allah Swt serasional mungkin. Dan dimuatnya kisah Ibrahim as dalam al-Qur’an merupakan isyarat bahwa Islam tidak anti dan menutup rapat-rapat pintu rasionalitas. Islam mengapresiasi rasonal secara proporsional. Karena memang tidak seluruh aspek dalam beragama konsumsi rasio. Bukan pada tempatnya menghadapkan Islam dengan rasionalitas. Apalagi sepengetahuan saya –kebetulan saya pernah belajar ‘muqoronatul adyan’ (perbandingan agama), dibanding agama manapun Islam dari berbagai  sisinya adalah agama yang paling rasional. Sayangnya masih ada segelintir ummat Islam yang barangkali karena keterbatasan pemahamannya terhadap Islam membuang unsure rasionalitas dalam beragama. Sehingga kita sering menyaksikan kesan adanya ajaran agama yang terkesan tidak rasional.

Nabi Ibrahim as adalah potret sukses seorang manusia yang menyadari dirinya adalah hamba Allah swt. Allah Swt memujinya sebagai imam yang  patut diteladani. Beliau dikenal sebagai “Abul Anbiya” (bapaknya para Nabi) dan dikenal juga sebagai Bapak Monotheisme dimana 3 agama samawi menghormatinya. Dalam al-Qur’an nama Ibrahim sedikitnya disebut sebanyak 62 kali yang bertebaran dalam 24 surat al- qur’an. Bahkan salah satu surat dinamakan menggunakan namanya, yaitu surat ke 14 dengan jumlah ayat sebanyak 52 ayat.  Seringnya penyebutan nama Ibrahim as ini antara lain agar manusia mengambil banyak hal dari kehidupan beliau.

إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين (120)   شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم (121) وآتيناه في الدنيا حسنة وإنه في الآخرة لمن الصالحين (122)   ثم أوحينا إليك أن اتبع ملة إبراهيم حنيفا وما كان من المشركين

                                                                               النحل (16): 120-123

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Diantara kisah Nabi Ibrahim yang populer adalah kisah perintah penyembelihan putranya oleh Allah Swt. mayoritas ummat Islam berkeyakinan putra yang diminta untuk disembelih adalah Ismail as, sementara mayoritas ummat Nashrani berkeyakinan Ishaq as. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an :

رب هب لي من الصالحين.    فبشرناه بغلام حليم.    فلما بلغ معه السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين.   فلما أسلما وتله للجبين. وناديناه أن يا إبراهيم.    قد صدقت الرؤيا إنا كذلك نجزي المحسنين.   إن هذا لهو البلاء المبين.   وفديناه بذبح عظيم. وتركنا عليه في الآخرين. سلام على إبراهيم. 

( الصافات (37): 100-109)

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

  1. Mimpi bagi para nabi dan rasul adalah bagian dari wahyu Allah Swt kepada mereka.
  1. Nabi Ibrahim menikah dengan Sarah, putri Raja Khazan. Namun dalam pernikahan itu, mereka lama tidak dikaruniai anak. Sehingga Sarah kemudian meminta Ibrahim as untuk menikahi Hajar seorang warga Palestina. Tetapi ditengah penantiannya terhadap lahirnya keturunan (ana), Nabi Ibrahim tetap bersabar dan memohon pada Allah Swt agar diberi keturunan yang shaleh. Bukan sekedar anak. Doa yang kemudian dicontoh oleh hamba-hamba Allah yang maha Rahman.

والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما   

   (الفرقان (25) :74)

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Bagi Nabi Ibrahim, kesalehan seorang anak adalah hal yang utama. Melebihi memiliki anak itu sendiri. Lebih baik tidak memiliki anak dari pada harus diamanahi anak yang tidak soleh.

  1. Seorang  anak bagi manusia pada umumnya adalah harta yang paling berharga melebihi anugrah harta Allah Swt yang lain. Uang, properti, tanah dan lain-ain betapapun berarganya adalah harta yang ternilai. Sementara anak tidak ada nilainya. Ia tidak dapat diganti dengan apapun. Orang tua yang normal, pasti akan rela memberikan seluruh harta bendanya untuk kepentingan anaknya. Karena itu, biar pun seorang manusia  dikarunia harta yang melimpah ruah, ia akan tetap merana ketika tidak diberi karunia anak. Bahkan seorang Nabi pun, Nabi Zakariyya terkesan mengeluh ketika menginginkan keturunan :

وزكريا إذ نادى ربه رب لا تذرني فردا وأنت خير الوارثين.        الانبياء (21):89

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.”

 

     Allah Swt uji Nabi Ibrahin as untuk menyerahkan hartanya yang paling     berharga untuk diserahkan kembali pada yang memberikan yaitu Allah swt.  Dan Nabi Ibrahim sukses menghadapi ujian yang dahsyat itu. Dengan hati yang ikhlas ia laksanakan titah Allah.

Bila Nabi Ibrahim sukses menghadapi ujian yang berat itu, sebagaimana firman Allah: إن هذا لهو البلاء المبين , maka bagaimana dengan kita. Sanggupkah kita menghadapi ujian sebagaimana yang dihadapi Nabi Ibrahim as? Seseorang mungkin akan berkata: “Tuhan apaan ini. Masa nyuruh orang tua motong anaknya sendiri.” Atau mungkin anaknya akan berkata: “mengapa mesti saya yang harus disembelih. Bapak aja yang lebih tua yang disembelih.”

Kepada kita, Allah hanya perintahkan untuk berkorban dengan melakukan penyembelihan hewan kurban. Bukan menyembelih anak. Itu pun setelah Allah Swt ingatkan bahwa Allah telah kasih anugrah yang banyak pada kita:

إنا أعطيناك الكوثر   فصل لربك وانحر إن شانئك هو الأبتر.      الكوثر (108):1

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Kalau Nabi Ibrahim dengan penuh keikhlasan rela mengurbankan putra tersayangnya, masa kita hanya diminta untuk berkurban hewan saja setahun sekali keberatan. Toh semua yang ada pada kita semuanya pemberian Allah swt. bukan kepunyaan kita. Ga lucu dong kalau kita merasa keberatan ketika kita diminta untuk menyerahkan kembali kepunyaan Allah yang diamanahkan pada kita. Kalaupun diminta semuanya juga wajar. Yang punyanya Allah Swt.

Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa kepentingan Allah, kepentingan agama diatas segalanya. Demi kepentingan Allah dan agama apapun siap dikorbankan. Jangankan nyawa sendiri, nyawa anak pun siap dikorbankan. Melebihi kepentingan lainnya. Bukan sebaliknya, demi istri, suami, anak, jabatan, karir, uang dan lain-lain kepentingan kepentingan Allah malah dikorbankan.

  1. Nabi Ibrahim as adalah tauladan orang tua yang sukses mendidik anaknya. Ia nabi yang keturunannya paling banyak menjadi Nabi. Ia berhasil mendidik putranya (nabi isail as) menjadi orang saleh dan sabar. Ketika Nabi Ibrahim as mengkonsultasikan perintah Allah Swt yang sangat berat, Nabi Ismail as bukan saja menerima perintah itu dengan ringan hati, tetapi ia juga mensupport ayahnya untuk tidak gamang menjalankan perintah itu. Tentu perlu kajian lebih jauh untuk mentelaah bagaimana Ibrahim as mendidik putra-putranya sehingga sukses. Tidak cukup waktu untuk menjabarkan hal itu dalam kesempatan ini.
  1. Perintah Allah Swt pada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya (Nabi Ismail as) pada dasarnnya bukanlah perintah sungguhan. Allah Swt bermaksud menguji sejauh mana loyalitas Nabi Ibrahim as terhadap Allah Swt. dengan kata lain perintah itu sesungguhnya adalah ujian keimanan terhadap Nabi Ibrahim as. Bagaimna mungkin Allah Swt yang maha pengasih memerintahkan seorang ayah untuk menyembelih putranya sendiri. Dan Nabi Ibrahim as lulus ujian keimanan yang sangat dahsyat.
  1. Perintah Allah pada Nabi Ibrahim as untuk meyembelih putranya sendiri adalah isyarah perintah pada manusia untuk membunuh penyembahan terhadap materialisme. Penghambaan seseorang terhadap materi. Ketika manusia sadar atau tidak sadar mengedepankan kehidupan duniawi, materi menjadi oriantasi hidupnya, sehingga ia lebih mengedepankan kepentingan dunia dibanding kepentingan hidupnya sebagai hamba Allah, demi harta ia akan lakukan apa saja, tidak peduli halal atau haram,  demi jabatan ia sanggup menjilat atasan meninjak bawahan, sikut kanan kiri, maka dia telah menghambakan dirinya pada materi.

الله اكبر , الله أكبر , الله أكبر  ولله الحمد

Demikianlah bebepa jikmah dan tauladan Nabi  Ibrahim as  yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Tentu apa yang saya paparkan jauh dari memadai. Tauladan dan hikmah dari Ibrahim as jauh lebih luas dan banyak dari apa yang saya paparkan. Apa lagi dari 62 ayat tentang beliau hanya beberapa ayat saja yang diungkap dalam kesempatan ini.

Semoga kita dapat meniru Ibrahim as. Seorang hamba Allah yang berkepribadian :

  1. relijius
  2. mendahulukan kepentingan Allah diatas segalanya
  3. Kritis
  4. Syakir
  5. Demokratis dan tidak egois
  6. Hangat dalam keluarga

وإذ قال إبراهيم رب اجعل هذا البلد آمنا واجنبني وبني أن نعبد الأصنام.   رب إنهن أضللن كثيرا من الناس فمن تبعني فإنه مني ومن عصاني فإنك غفور رحيم.  ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون.  ربنا إنك تعلم ما نخفي وما نعلن. وما يخفى على الله من شيء في الأرض ولا في السماء.  الحمد لله الذي وهب لي على الكبر إسماعيل وإسحاق إن ربي لسميع الدعاءرب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاءربنا اغفر لي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

(ابراهيم (14) : 34-41)


“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.