KHUTBAH  IDUL FITHRI 1 SYAWWAL 1429 H/1 OKTOBER 2008

PERUM GRIYA ALAM, CILENGSI BOGOR

الله أكبر  9 مرات  الله  اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْن

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن، اللهم عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن

Sungguh beruntung, kembali kita bertemu hari yang mulia, hari Raya Idul Fithri. Tidak semua orang dapat kembali bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri. Ada yang sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Allah Swt.  Mungkin termasuk orang yang kita kenal. Ini merupakan anugrah Allah yang tidak terhingga yang harus kita syukuri. Ingatlah ! Anugrah jika tidak dapat disyukuri pasti berubah menjadi musibah.

Karena itu dalam moment yang baik ini, perkenankan saya mengajak seluruh jama’ah untuk merenungkan beberapa hal. Mudah-mudahan dapat mendorong kita untuk lebih dapat menjalankan tuntunan dan ajaran agama lebh baik lagi dan lebih dapat bersyukur pada Allah Swt.

الله اكبر      الله اكبر     الله اكبر   ولله الحمد

Pertama. Mulai hari ini, kita dapat mengukur, sejauh mana pencapaian ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin. Terutama ibadah puasa kita. Sebab sejauhmana keberhasilan ibadah kita dibulan Ramadhan kemarin, tercermin pasca  berlalunya bulan Ramadhan.

Dalam Surat al-Baqoroh :183 Allah menyatakan bahwa tujuan disyari’atkanya puasa kepada orang-orang yang beriman (insya Allah, kita semua termasuk didalamnya) adalah agar orang-orang yang melaksanakan puasa dapat menjadi orang yang bertaqwa pasca puasa.

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون     أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم      إن كنتم تعلمون                                                              البقرة (2) : 183-184

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

 

Apakah gambaran taqwa ada pada diri kita setelah kita melewati puasa sebulan penuh kemarin? Bagaimanakah bentuk taqwa pasca Ramadhan?

Ketaqwaan seseorang pasca Ramadhan tercermin dari semakin meningkat intensitas dan berkualitas ibadahnya. Baik ibadah hablun minallah (ritual/mahdhah), maupun ibadah hablun minan nas (sosial/ghair mahdhah).

Peningkatan intensitas dan kualitas ibadah ritul/mahdhah tergambar dari apakah seseorang semakin tekun dan khusyu’ menjalankan shalat, baik shalat yang wajib maupun sunnah. Apakah ia semakin rajin berdzikir (mengingat Allah) baik dengan bertasbih, tahmid, tahlil, membaca al-Qur’an, beristighfar memohon ampunan atas segala kesalahan yang dilakukannya? Dan amalan-amalan ibadah mahdhah/ritual yang lain?

Apakah ia juga semakin shabar dalam beribadah, dalam menghadapi ujian dan cobaan Allah, semakin bisa menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Semakin mampukah  menjaga syahwat? Syahwat  perut, syahwat farji, syahwat panca indra, syahwat pikiran, syahwat jabatan, syahwat harta dan lain-lain. Baik dari hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi dari hal-hal yang dilarang Allah Swt? Jika tidak ada perubahan antara sebelum dan sesudah puasa Ramadhan, maka tentu ada sesuatu dengan puasanya pada Ramadhan yang lalu. Dengan kata lain puasanya belum sesuai dengan tuntutan dan tuntunan syara’.

Sementara itu intenitas dan kualitas ibadah sosial/ghoir mahdhah tergambar pada sejauh mana kepekaan dan kepedulian sosialnya. Adakah perubahan sebelum dan sesudah Ramadhan ? Puasa mengajarkan orang melalui menahan lapar dan dahaga  untuk dapat merasakan penderitaan orang-orang  mustadh’afin (fakir,miskin,anak-anak yatim, orang-orang yang terlantar).

Apakah setelah Ramadhan ia semakin peduli dan perhatian pada fakir miskin? Semakin gemar berinfak, bershadaqahoh? Berempati pada kaum yang kurang beruntung itu?  Jika jawabannya ya, maka itu lah yang dikehendaki Allah dengan kewajiban puasa ramadhan. Jika tidak ada perubahan, tetap cuek, tidak ada perhatian, tetap berat untuk berinfak, shadaqah pada mereka yang terpinggirkan itu, maka puasanya baru sekedar manahan lapar dan dahaga saja. Belum sesuai dengan yang dikehendaki syara’.

ضربت عليهم الذلة أين ما ثقفوا إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبآؤوا بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة ذلك بأنهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون الأنبياء بغير حق ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون.        ال عمران (3) :112

 

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

الله اكبر      الله اكبر     الله اكبر   ولله الحمد

2. Kedua. Pada bulan Ramadhan lalu, kita menyaksikan tragedi yang menimpa ummat Islam terkait pembagian zakat. Puluhan orang terluka, pingsan bahkan meninggal dunia diberbagai daerah akibat berebut zakat yang dikeluarkan oleh muzakki setempat. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan menggelitik rasa keberagamaan kita. Pertanyaannya, apakah memang demikian tuntunan ajaran Islam yang mulya tentang cara pendistribusian zakat? Agaknya, pola pendistribusian zakat dalam Islam tidaklah seperti itu.

Dalam al-Qur’an Surat (9) al-Taubah ayat 60 Allah Swt berfirman :

إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dalam al-Qur’an Surat (9) al-Taubah ayat 103 Allah Swt berfirman :

 

خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم والله سميع عليم

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

ان النبي صلي الله عليه وسلم بعث معاذا الي اليمن   فقال :  ادعهم الي شهادة ان لا اله الا الله واني رسول الله.   فان هم اطاعوه لذلك  فاعلمهم  ان الله افترض عليهم صدقة في اموالهم تؤخذ من اغنيائهم  وترد الي فقرائهم.                  رواه البخاري

Untuk memahami maksud ayat al-Qur’an dan hadis diatas, ada baiknya kita mengacu pada cara pendistribusian zakat dimasa Rasulullah Saw dan dimasa al-Khulafa al-Rasyidun.  Ada 2 hal yang perlu digarisbawahi tentang pendistribusan zakat dimasa Rasulullah saw, kemudian diikuti pada masa al-Khulafa al-Rasyidin.

a. Dimasa itu tidak ada muzakki yang mendistribusikan zakatnya secara langsung kepada para mustahik. Melainkan melalui lembaga amil yang ada. Entah sejak kapan pola pendistribusian secara langsung mulai dilakukan. Pendistribusian zakat secara langsung bukan saja tidak sesuai dengan ‘ittiba’ kepada Nabi Saw dan al-Khulafa al-Rasyidin, tetapi juga rentan resiko. Antara lain : orang yang mendistribusikan zakatnya secara langsung rawan riya’, tidak tepat sasaran dan yang paling parah adalah mengorbankan dan mengeksploitasi para mustahik. Para mustahik disuruh antri, tersiksa terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang sebetulnya adalah hak mereka sendiri. Seolah kepada dunia dipertontonkan, inilah wajah  orang-orang miskin! Apa seperti ini tuntunan ajaran Islam?

Dalam pandangan Islam, Harta yang dikeluarkan oleh para muzakki, sebetulnya adalah bukan harta muzakki, tetapi harta para mustahik yang dititipkan oleh Allah pada para muzakki (Surat (9) al-Taubah ayat 60 ). Jadi tidak sepantasnya para muzakki membuat susah mustahik ketika menerima haknya sendiri.

b. Dimasa itu, peran amilin betul-betul maksimal. Mereka bukan Cuma bekerja dibulan Ramadhan. Pasang spanduk dan duduk-duduk dimasjid menunggu orang mengantarkan zakat fitr. Mereka tahu bahwa zakat fitr itu zakat emergensi, zakat konsumtif yang harus selesai dibagikan sebelum Ramadhan usai, yang potensinya tidak seberapa dibanding zakat mal. Selain itu mereka proaktiv dalam menghimpun potensi zakat ummat. Mereka mendata para muzakki lalu mengambil zakat dari mereka dan mendistribusikannya pada para mustahik. Amil pada masa itu tidak berdiam diri menunggu para muzakki mengantarkan zakat. Ini selaras dengan perintah Allah Swt (Surat (9) al-Taubah ayat 103) dan sabda Rasulullah Saw diatas. Karena itu wajarlah jika para amil termasuk orang  yang mendapat prioritas dalam ashnaf zakat  (Surat (9) al-Taubah ayat 60).

Pendistribusian zakat saat ini sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan dimasa Rasulullah Saw dan al-Khulafa al-Rasyidin. Akibatnya Ruh al-Tasyr’ dari disyari’atkan zakat belum tercapai. Salah satunya yaitu seperti yang diungkap oleh Imam al-Mawrdi : ما يخرج به من اسم الفقر والمسكنة الي ادني مراتب الغني (الاحكام السلطانة ص 122) mengangkat kehidupan para mustahik dari kemiskinan dan kefaqiran menuju kehidupan minimal yang layak. Zakat saat ini terkesan belum dapat mengangkat kondisi kehidupan mustahik pada kehidupan yang layak. Zakat belum dapat mengangkat mustahik menjadi muzakki. Dari tahu ke tahun, wajah mustahik itu-itu saja. Tentu ini karena apa yang dimaksud syara’ dengan zakat, baik ruh maupun tujuanya belum dapat dipraktekkan sepenuhnya. Semoga saja kedepan pemahaman, kemauan berzakat serta cara pendistribusiannya bisa lebih baik lagi.

الله اكبر      الله اكبر     الله اكبر   ولله الحمد

3. Ketiga. Sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini kondisi ummat Islam dalam banyak hal tertinggal dibanding ummat lain. Ekonomi, IPTEK, politik, budaya dan lain-lain. Padahal Rasulullah Saw diriwayatkan bersabda :

 الاسلام يعلو ولا يعلي عليه                         اخرجه الدار قطني

Padahal dahulu ummat Islam pernah menjadi ummat yang terdepan disegala bidang dibanding ummat lain. Sayang keadaan sekarang berbalik. Banyak faktor memang yang menjadikan hal ini terjadi. Salah satunya adalah karena renggangnya ukhuwwah antar  ummat Islam.

Hari ini, dihari yang Fitri, mari kita jadikan Idul Fitr ini sebagai momentum untuk mempererat silaturrahim dan ukhuwwah antar ummat Islam. Kita sambung kembali tali yang hampir atau bahkan telah putus. Saling memberi dan meminta maaf. Jangan kikir untuk memberi dan meminta maaf. Kemudian kedepan kita jaga agar virus-virus tidak merusak  ukhuwwah  ummat Islam. Dan kita kedepankan prinsip unversal yang sangat indah dari Allah Swt :

وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حتى تفيء إلى أمر الله فإن فاءت فأصلحوا بينهما بالعدل وأقسطوا إن الله يحب المقسطين     إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون  

 يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيرا منهن ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون                 الحجرات (9) 9-11

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

Rasulullah Saw bersabda :

لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم علي بيع بعض وكونوا عباد الله اخوانا. المسلم اخوالمسلم  لا يظلمه ولا يخذله ولا يكذبه ولا يحقره.  التقوي ههنا –ويشير الي صدره ثلاث مرات.  بحسب امرئ من الشر ان يحقر اخاه المسلم . كل المسلم علي المسلم حرام دمه وماله وعرضه       رواه مسلم

 

Dengan prinsip diatas, kita buang jauh-jauh sifat ananiyyah  (egoisme) pribadi, kelompok, kesukuan, keormasan, partai,  mazhab dan lain-lain. Jangan kita merasa kita selalu berada pada posisi yang benar sementara yang lain salah. Sebab masing-masing kita hanya berusaha mengamalkan ajaran dan tuntunan menurut versi yang kita yakini benar. Dan belum tentu versi itu benar dan sesuai menurut Allah dan Rasul-Nya.

الحق من ربك فلا تكونن من الممترين                  البقرة :147

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Karena itu sudah bukan waktunya lagi kita memperdebatkan bilangan rakaat shalat tarawih, mempermasalahkan jahr atau sir kah bacaan basmalah, men-bid’ahkan  tahlilan, qunut, muludan, rajaban. Hari gini masih meributkan masalah seperti itu ? cape deh !  kita harus bisa membedakan antara persoalan khilafiyah yang dapat ditolelir dengan persoalan bid’ah. Jangan memasukkan persoalan khilafiyah ke ranah bid’ah. Alangkah naifnya orang yang mempelajari al-Qur’an dan al-Sunnah dengan gampang menganggap orang lain bid’ah, padahal pemahamannya terhadap al-Qur’n dan al-Sunnah belum tentu benar. Apalagi bacanya juga belum benar dan masih menggunakan terjamahan.  Sama naifnya dengan orang yang alergi terhadap orang yang berdalil dengan al-Qur’an  dan al-Sunnah.

Kita juga jangan alergi  terhadap perbedaan. Sebab perbedaan adalah sunnatullah. Hukum alam yang tidak bisa kita hindari. Yang penting bagaimana kita mengupayakan agar perbedaan itu menjadi kekuatan bagi kita. Tidak memecah ukhuwwah kita. Anda NU, Muhammadiyyah, Persis… tidak masalah. Dalam hal ini kita sepakat dan salaman  untuk berbeda. Tetapi ingat, perbedan ini jangan sampai merusak persaudaraan. Bagaimanapun kita bersaudara. Jangan kita kedepankan perbedaannya. Kita kedepankan persamaannya.

Terhadap ahlul kitab saja Allah Swt perintahkan kita agar berdialog dan mengedepankan persamaan, apa lagi terhadap sesama muslim.

قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون                          ال عمران (3) : 64

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).

4. Keempat. Pada bulan Ramadhan kita saksikan bersama setiap masjid, musholla, bahkan rumah-rumah semarak dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an. Bahkan ada masjid dan musholla yang saking semangatnya mengadakan pembacaan al-Qur’an secara bergantian sepanjang malam, mulai habis shalat tarawih sampai waktu sahur. Tentu ini hal yang sangat positif.

Namun sayangnya setelah Ramadhan berlalu, masjid, musholla dan rumah-rumah banyak yang kembali sunyi dari pembacaan al-Qur’an. Bahwa memang benar termasuk amalan sunnah adalah memperbanyak membaca al-Qur’an dibulan Ramadhan. Namun bukan berarti diluar bulan Ramadhan membaca al-Qur’an tidak disunnahkan. Sepanjang saat, membaca al-Qur’an adalah amalan mulia (sunnah). Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan keutamaan membaca al-

Qur’an. Diantaranya :

اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون                             العنكبوت (29) :45

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

واذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله والحكمة إن الله كان لطيفا خبيرا               الاحزاب (33) : 34

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

إن الذين يتلون كتاب الله وأقاموا الصلاة وأنفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور.                      فاطر  (35) : 29

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.

مثل المؤمن الذي يقرأ القرأن كمثل الأترجة  طعمها طيب وريحها طيب. و الذي لا يقرأ القرأن كالتمرة ريحها طيب ولا ريح لها. ومثل الفاجر الذي يقرأ القرأن كمثل الريحانة  ريحها طيب وطعمها مر. ومثل الفاجر الذي لا يقرأ القرأن كمثل الحنظلة طعمها  مر ولا ريح لها.                                 رواه البخاري ومسلم عن أبي موسي الأشعري

Pada kesempatan yang baik ini, perkenankan saya mengajak seluruh jama’ah untuk tetap memperbanyak membaca al-Qur’an. Lebih baik lagi jika kita bukan sekedar membaca, melainkan juga berusaha memahami arti dan memahami maksud dari ayat-ayat yang dibaca. Sebab bagaimana mungkin kita menjadi orang yang bertaqwa kalau tidak menjadikan al-Qur’an sebagai tuntunan dan pedoman hidup. Bagaimana mugkin kita termasuk orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup kalau membacanya saja jarang, apalagi tidak pernah. Dan bagaimana mungkin kita menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup kalau kita tidak memahami arti dan maksud ayat-ayat alQur’an.

Karena itu, mari kita pertahankan dan tingkatkan kualitas membaca al-Qur’an kita dengan memperbanyak membaca dan mentadabburinya. Mudah-mudahan hidayah Allah senantiasa menyertai kita.

أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا                 النساء (4) :82

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

والذين إذا ذكروا بآيات ربهم لم يخروا عليها صما وعميانا                            الفرقان  25 : 73

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها                                                                      محمد  (47) : 24

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?

 

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin.