KRITIK TERHADAP IBADAH SOSIAL SEBAGIAN UMMAT ISLAM

 

1. Praktek Pembagian Zakat dan Shadaqoh

Sebagian ummat Islam yang mampu   membagikan zakat dan shadaqohnya  dengan cara membagikan zakat dan shadaqohnya di tempat mereka. Ada yang membagikannya secara langsung dan ada yang membagikannya dengan kupon yang telah dibagikan terlebih dahulu.

Pembagian santunan baik dari zakat maupun shadaqoh dalam bentuk  uang maupun bahan makanan dan pakaian untuk fakir miskin misalnya sering dilakukan dengan cara mengumpulkan mereka . Terkadang mereka harus antri sampai malam hari hanya untuk mendapatkan sesuatu yang tidak seberapa dan padahal itu hak mereka sendiri. Untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya mereka harus rela lelah dan menangung ‘malu’. Mereka yang berhak bahkan sampai ada yang pingsan bahkan meninggal dunia karena kelelahan atau terinjak-injak.

2. Santunan Terhadap Anak Yatim.

Pembagian santunan terhadap anak yatim pun terkadang tidak jauh berbeda caranya dengan pembagian santunan terhadap fakir miskin. Ironisnya kebanyakan mereka itu masih anak-anak bahkan balita. Sudah lelah mereka pun seakan dipermalukan. Yang memberi seakan pahlawan bagi anak-anak yatim itu. Seakan dewa penolong.

3. Khitanan Massal

Dari namanya saja sudah terkesan bahwa acara itu bersifat massal. Baiknya khitanan tidak dilakukan secara massal. Melainkan yang butuh untuk dikhitan, diberi pelayanan kapan saja. Sebab anak yang dikhitan secara massal  dan orang tuanya terkena beban mental. Khitanan massal biasanya hanya untuk orang-orang miskin. Jadi orang yang dikhitan massal identik dengan orang miskin. Ini tentu paradigma yang tidak sehat.

4. Pengobatan massal.

Orang yang sakit dikumpulkan untuk diberi pengobatan gratis. Ini baik jika dilakukan dikantong masyarakat miskin. Tapi jika dilakukannya ditempat orang-orang kaya. Tentu ini tidak efektif. Orang yang sedang sakit malah suruh mendatangi tempat yang jauh dari mereka.

Cara ini tentu tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam. Sebab yang menerima zakat dan shadaqah disebut ‘mustahik’  (orang yang berhak). Mustahik mestinya tidak mesti antri apalagi berebut dan bedesak-desakan untuk mendapatkan sesuatu yang memang menjadi haknya.

Muzakki atau agniya seharusnya memberikan itu dengan cara mengantarkannya kepada mustahik.

والذين في أموالهم حق معلوم. للسائل والمحروم.   المعارج (70) :24-25

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”    (Q.S. Al-Ma’arij (70) : 24-25)

إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم      التوبة  (9) : 60

 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”                                                 (Q.S. Al-Taubah (9): 60)