PERKAWINAN USIA MUDA/BAWAH UMUR

1. Mayoritas foqoha mengesahkan perkawinan usia muda/bawah umur. Bahkan Ibn Mundzir menganggapnya sebagai ijma’. Alasannya adalah karena kriteria baligh berakal bukan persyaratan bagi keabsahan suatu pernikahan. Dasarnya adalah :

واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر واللائي لم يحضن وأولات الأحمال أجلهن أن يضعن حملهن ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا   :       الطلاق (65):4

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”      

 

 

وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم

النور (24):32

‘Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

 

 

تزوجني النبي صلي الله عليه وسلم وأنا ابنة ست  وبني بي وأنا ابنة تسع

  أخرجه البخاري ومسلم وابو داود والنسائي

“ Nabi menikahiku ketika usiaku  tahun. Dan hidup bersamaku ketika usiaku 9 tahun.”  HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Naa’i.”

Diantara sahabat Nabi Saw ada yang menikahkan putra-putri atau keponakannya yang masih muda. Ali Bin Abi Thalib ra menikahkan putrinya Umm Kultsum dengan Umar Ibn al-Khatthab ra.[1]  Urwah bin Zubair ra juga menikahkan anak saudara perempuannya dengan anak laki-laki  saudaranya. Keduanya sama-sama dibawah umur.[2]

2. Berbeda dengan mayoritas fuqoha, Ibn Syubrumah, Abu Bakr al-Asham dan Utsman al-Batti berpendapat bahwa perkawinan itu tidak sah. Mereka hanya boleh dinikahkan ketika sudah baligh dan atas persetujuan mereka.

Ibn Syubrumah berkata :

لا يجوز انكاح الأب ابنته الصغيرة حتي تبلغ وتأذن

 “Ayah tidak boleh menikahkan anak perempuannya yang masih kecil kecuali apabila telah baligh dan mengizinkannya.”[3]

Dasar pendapatnya adalah :

وابتلوا اليتامى حتى إذا بلغوا النكاح فإن آنستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف فإذا دفعتم إليهم أموالهم فأشهدوا عليهم وكفى بالله حسيبا

النساء (4):6

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).”

Pendapat Ibn Syubrumah dan dua ahli fiqh diatas juga menjadi pilihan Undang-Undang Perkawinan Indonesia. UU ini pasal 7 menetapkan batas minimal usia pernikahan bagi perempuan 16 tahun dan bagi laki-laki 19 tahun.[4]

3. Benang merah 2 pendapat

Untuk meretas perbedaan 2 pendapat diatas, maka sebaiknya kita merunut terlebih dahulu ‘Maqasid al-Tasyri’ (tujuan disyari’atkannya) pernikahan. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan tujuan disyari’atkannya pernikahan. Berikut diantaranya:

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون                  الروم (30):21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

 

 

عن بن عباس قال: قال لنا رسول الله صلي الله عليه وسلم: يا معشر الشباب من اسطاع منكم الباءة فليتزوج. فانه أغض للبصر وأحصن للفرج. ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء.  متفق عليه

“Dari Ibn Abbas ra, ia berkata: telah berkata Rasulullah Saw kepada kami : “wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah ba’ah (telah mampu menikah) menikahlah, sesungguhnya pernikahan itu (membuat seseorang) lebih terjaga mata dan kemaluannya. Barang siapa yang belum mampu menikah hedaklah ia berpuasa. Karena puasa baginya bisa menjadi penawar.”  (Muttafaq ‘Alaih)

 

 

عن أنس بن مالك قال : كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يأمرنا بالباءة[5] وينهي عن التبتل نهيا شديدا. ويقول: تزوجوا الولود الودود. فاني مكاثر بكم الأنبياء يوم القيامة                     .أحمد

“Dari Anas bin Mlik ra, ia berkata: bahwasanya Rasulullas Saw memerintakan kepada kami agar dapat menikah dan melarang keras kami untuk tidak menikah. Beliau bersabda:’Nikahilah wanita yang bisa memberi banyak keturunan dan penu kasih sayang. Sesungguhnya aku senang dihadapan para nabi lain (dengan banyaknya jumlah kalian) pada hari kiamat.”  (HR Ahmad)

 

Dari ayat al-Qur’an dan hadis diatas jelas tergambar bahwa diantara tujuan utama disyari’atkannya pernikahan adalah agar seseorang :

  1. Mendapatkan mawaddah dan rahmah dari pasangannya, sehingga ia mendapatkan ketenteraman hidup.
  2. Dapat menyalurkan hasrat seksual secara sah dan sehat
  3. Mendapatkan keturunan untuk keberlangsungan populasi ummat manusia.

Dan untuk terwujudnya tujuan pernikahan, maka tentu diperlukan kematangan/kedewasaan laki-laki maupun wanita yang melakukan pernikahan.  Baik kematangan fisik, mental mau pun finansial. Sebab pernikahan menimbulkan konsekwensi dan tanggungjawab bagi suami istri.

-Sulit mewujudkan mawaddah dan rahmah tanpa kedewasaan berpikir. Keadaan suami tidak mungkin dapat persis seperti seideal yang diinginkan istrinya. Begitupun sebaliknya.

-Hubungan seksual yang sah dan sehat hanya dapat terjadi pada suami istri yang sehat dan  fisik yang siap.

-Proses untuk mendapatkan keturunan tentu tidak lepas dari kelahiran. Sementara ketidak siapan fisik dalam melahirkan sering menimbulkan kematian pada ibu yang melahirkan. Dan tentu kematian dalam melahirkan bukan tujuan dari pernikahan.

-Bagaimana suami dapat bertanggung jawab terhadap nafkah istri bila ia belum siap secara fisik untuk mencari nafkah.

4. Kesimpulan.

  1. Pernikahan bawah umur/usia muda bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Karena adanya dasar syara’ yang kuat mengenai hal itu. Sesuatu yang diperbolehkan oleh syara’, pasti mengandung hikmah dan manfaat yang seringkali manusia terlambat menyadarinya.
  1. Namun bukan berarti syara’ menganjurkan apalagi memerintahkan pernikahan usia muda/bawah umur. Terutama untuk mempelai wanitanya. Mengenai hal ini Imam al-Syafi’i berkata:

ويستحب للأب أن لا يزوجة حتي تبلغ  لتكون من اهل الاذن ولانه يلزمها بالنكاح حقوق

“Sebaikya ayah tidak menikahkan anak perempuannya (yang masih belia) sampai dia baligh dan  bisa menyampaikan izin. Karena perkawinan membawa berbagai konsekwensi.[6]

 

  1. Pembicaraan mengenai usia dalam hal pernikahan ini mencakup laki-laki dan wanita. Bukan sebatas wanita.
  2. Kedewasaan seseorang secara fisik dan mental satu sama lain berbeda. Ada yang cepat ada yang lambat.Umur bukanlah satu-satunya tolak ukur kedewasaan fisik dan mental seseorang. Banyak orang yang cukup umur, fisik dewasa tetapi mental tidak dewasa. Ada juga yang cukup umur dan mental tetapi fisik tidak dewasa.
  3. Undang-undang perkawinan pada dasarnya dimaksudkan  agar tujuan pernikahan dapat tercapai. Karena itu sebaiknya UU Perkawinan itu dipatuhi oleh seluruh warga negara. Dalam pasal 7, batas minimal perkawinan bagi wanita 16 tahun dan bagi laki-laki 19 tahun.
  4. Tetapi bila satu dan lain hal seseorang dihadapkan pada pilihan untuk menikah dibawah usia yang ditetapkan oleh UU Perkawinan itu, maka ketetapan syara’ harus didahulukan. Terutama bila karena untuk memenuhi UU itu seseorang sampai melakukan yang dilarang syara’. Zina misalnya. Karena itu dapat dimengerti bila Rasulullah Saw memerintahkan wanita lajang yang sudah ada jodoh sepadannya untuk segera dinikahkan. Walau pun mungkin umurnya kurang dari 16  tahun.

عن علي بن أبي طالب أن النبي صلي لله عليه وسلم  قال له : يا علي ثلاث لا تؤخرها :   الصلاة اذا انت,  والجنازة اذا حضرت, والأيم اذا وجدت لها كفئا .   الترمذي :156

“dari Ali bin Abi Thalib ra: sesungguhnya Rasulullas Saw pernah berkata kepadaku , “wahai Ali, ada 3 hal yang tidak boleh kamu akhirkan (harus disegerakan). Yaitu shalat ketika sudah masuk waktunya, jenazah ketika telah ada, dan yang belum menikah ketika kamu dapatkan jodoh yang sepadan denganya.”

  1. Bila orang tua menikahkan anaknya dibawah umur, maka orang tua anak tersebut masih berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya dalam segala hal. Terutaama bimbingan agama, terutama lagi shalat. Mengenai hal ini Imam al-Sam’ani berkata :

ذكر السمعان في زوجة صغيرة ذات أبوين أن وجوب ما مر عليهما فالزوج

“Imam al-Sam’ani menuturkan terkait istri yang dibawah umur bahwa orang tua dan suaminya berkewajiban memerintahkan anak dan istrinya  untuk shalat.”[7]


[1]. Ibn Qudamah, al-Mughni, juz VI, hlm. 487.

[2] .Al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami, (1997), juz IX halm. 6683.

[3]. Ibn Hazm, al-Muhalla, juz IX, hlm. 459.

[4]. Husein Muhammad, Fiqh Perempuan, LKiS, hlm.72.

[5].  الباءة berasal  المباءة  yaitu  المنزل  (tempat tinggal). Demikian ini karena seseorang yang menikahi wanita diharuskan menyediakan tempat tinggal. Lihat [5] Bulugh al-Maram, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqolani, h. 94

[6]. Abdul Rahman al-Jazari, Al-Fiq ‘ala Madzahib al-Arba’ah, (1984) juz IX, hlm. 4-7.   Dar al-Fikr, Beirut

[7]. Sayyid al-Bakry, I’anah al-Thalibin, juz I, hlm. 25. Dar al-Fikr, Beirut