SURBAN DAN  SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW

 

 

Dipresentasikan pada mata kuliah

 

METODE  MEMAHAMI  HADITS

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

AIM   ZA’IMUDDIN

 

 

 

 

 

Dosen  Pembimbing

 

PROF. KH. ALI  MUSTAFA YA’KUB, MA

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

ISNSTITUT ILMU AL-QUR’AN JAKARTA (IIQ)

2007

 

Surban dan Sunnah Nabi Muhammad SAW

 

Pendahuluan

Mengenai kedudukuan hadits (al-sunnah) sebagai sumber tasyri’ kedua setelah  al-Qur’an, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama didalamnya.[1]

Namun apakah seluruh apa yang dilakukan, diucapkan, ditetapkan, dan direncanakan  Nabi Saw merupakan tasyri’ yang menjadi tuntunan, baik yang bersifat wajib maupun anjuran, terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini.[2]

Terjadinya perbedaan pendapat mengenai hal ini bersumber dari perbedaan cara memahami dan apresiasi terhadap hadits. Ada yang memahaminya secara tekstual dan ada yang memandangnya secara kontekstual. Hadits memang terkadang ada yang  harus dipahami secara tekstual, terkadang harus kontekstual dan terkadang tekstual plus kontekstual.

Jika boleh dikompromikan, yang terbaik dari cara memahami dan mengapresiasi hadits adalah secara tektual terlebih dahulu baru kemudian jika diperlukan dan memungkinkan dikontekstualkan. Jika sebuah hadits dapat dipahami dan diapresiasi secara tekstual dan pemahamannya tidak menimbulkan kerancuan, gejolak atau kontroversi dan pemahaman itu dapat dijadikan acuan keyakinan serta diterapkan dalam praktek kehidupan, maka memahaminya secara kontekstual bukanlah satu keharusan. Sebab, betapa pun yang menjadi tolak ukur utama adalah umum al-lafzhi, dengan tanpa mengesampingkan pertimbangan sebab yang khusus.

Karena itu, tidaklah bijak memaksakan pemahaman hadits secara tekstual saja. Sama tidak bijaknya dengan memperkosa hadits untuk dikontekstualkan.

Dari pemaparan singkat diatas, jelas bahwa tekstualitas dan kontekstualitas sebetulnya bagian dari ranah ijtihad yang sangat fleksibel hasilnya. Ketika cara atau semangat ijtihad berbeda, sangat besar kemungkinan hasil ijtihadnya pun berbeda. Apa lagi sampai saat ini, belum ada –paling tidak sepengetahuan penulis- rumus baku yang disepakati ulama yang berkompeten dalam bidang hadits tentang batasan sejauh mana sebuah hadits harus dipahami secara tekstual atau kontekstual.

Dengan demikian, adalah tidak tepat jika ada seseorang atau kelompok ketika berbeda pemahaman terhadap suatu hadis setelah melalui metode memahami hadits yang benar menurut para ulama hadits, dengan mudah menuduh orang lain atau kelompok lain salah atau meninggalkan sunnah atau apalagi sampai menuduh inkar sunnah.

Hadits-Hadits Nabi Muhammad  saw Memakai Surban

Salah satu contoh yang relevan dengan topik ini adalah surban. Banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw memakai surban. Ada yang kualifikasi haditsnya sangat dapat dipertanggungjawabkan. Dan ada pula yang sangat diragukan bahkan diyakini kepalsuannya.

Syaikh al-Mubarokfuri menilai hadis-hadis  Nabi Muhammad saw memakai surban terbagi dua katagori. Yang pertama, hadis-hadis yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw memakai surban. Hadits-haditsnya shahih. Kedua yang terkait dengan keutamaan memakai surban, seluruh hadis-hadisnya dhaif bahkan palsu.[3]

Hal yang menggelitik penulis ketika mencoba menelaah topik ini adalah mengapa Nabi Muhammad saw memakai surban. Menurut hemat penulis, pertanyaan mengapa Nabi Muhammad  saw memakai surban pantas dikemukakan. Karena beranjak dari pertanyaan inilah hadits-hadits surban dapat diidentifikasikan. Apakah harus difahami secara tekstual atau kontekastual?

Secara pribadi, sebagai seorang manusia, Nabi Muhammad saw tentu tidak dapat terlepas dari lingkungan, iklim, budaya dan kondisi sosial dimana beliau hidup pada waktu itu. Termasuk gaya dan cara berbusana beliau.

Sebagai pribadi yang sangat bijaksana, beliau tentu akan beradaptasi dalam berbusana dalam hal cara, gaya dan bahan busananya dengan masyarakat dengan masyarakat arab pada waktu itu. Tentu saja selama tidak bertentangan dengan misi syara’ yang diembannya.

Bila tradisi itu bertentangan dengan syara’, maka beliau tentu akan meluruskannya. Misalnya kasus turunnya perintah agar kaum wanita ketika itu menngenakan jilbab   (Q.S. Al-Nur : 30-31).  Ini mendobrak tradisi mengumbar aurat yang banyak dilakukan wanita arab pada waktu itu.

Berikut beberapa hadis yang menggambarkan  bahwa Nabi Muhammad saw mengenakan surban :

 

عن جابر بن عبد الله, ان النبي صلي الله عليه وسلم  دخل يوم فتح مكة  وعليه عمامة سوداء

 (رواه مسلم)

Dari Jabir bin Abdillah, ia menceritakan bahwa ketika memasuki Mekkah pada hari penaklukannya, Nabi Muhammad saw mengenakan surban hitam.”  (HR. Muslim)[4]

           

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Abu Dawud[5], Imam al-Tirmidzi[6], Imam al-Nasai[7], dan Imam Ibn Majah.[8]

 

عن المغيرة عن ابيه ,  ان النبي صلي الله عليه وسلم  مسح علي الخفين ومقدم رأسه وعمامته         رواه مسلم

“Dari al-Mughirah, dari ayahnya, ia berkata : sesungguhnya Nabi Muhammad saw (ketika wudhu) mengusap dua sepatu, bagian depan kepala  dan surbannya”. (HR.Muslim)[9]

 

عن جعفر بن عمرو بن أمية عن ابيه قال  رأيت النبي  صلي الله عليه وسلم يمسح علي عمامته وخفيه        رواه البخاري

“Dari Ja’far bin “Amr bin Umayyah, dari ayahnya, ia berkata sesungguhnya aku melihat  Nabi Muhammad saw  mengusap surban dan dua sepatunya.”  (HR. Bukhori)[10]

 

عن جعفر بن عمرو بن حريث عن ا بيه أن رسول الله صلي الله عليه وسلم  خطب الناس وعليه عمامة سوداء    رواه  مسلم

“Dari Ja’far bin Amr bin Huraits, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah saw pernah berkhutbah dihadapan manusia dengan memakai surban hitam.” (HR Muslim)[11]

Sebetulnya masih banyak  hadits lain yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw memakai surban. Namun menurut hemat penulis, contoh diatas sudah cukup mewakili penggambaran bahwa Nabi Muhammad saw memakai surban walaupun tidak bisa dipastikan beliau selalu mengenakannya.

Persoalannya apakah lalu hadits-hadits diatas menjadi dalil disunnahkannya memakai surban?  Sehingga orang yang enggan atau tidak memakainya dianggap  enggan atau tidak mau melaksanakan sunna Nabi saw atau bahkan dianggap sekuler?

 

Pemahaman  Tekstual dan Kontekstual terhadap Hadits-hadits Surban.

Bila hadits-hadits terkait surban difahami hanya secara tekstual, karena nabi Muhammad saw memakainya, terlepas latar belakang yang membuat nabi Muhammad saw memakainya,  maka hukum memakai surban adalah sunnah. dan orang yang tidak memakainya dianggap tidak menjalankan sunnah.

Menurut hemat penulis, karena hadits-hadits  terkait dengan surban tidak ada satupun yang mengandung perintah memakai surban, hanya menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw memakai surban, maka hadits-hadits terkait surban harus difahami secara tekstual sekaligus kontekstual. Demikian itu mengingat bahwa cara gaya dan  bahan busana satu daerah berbeda dengan daerah lain berberda, tergantung adat, iklim, budaya dan lingkungan setempat. Pakaian yang nyaman dikenakan disuatu daerah belum tentu nyaman digunakan didaerah lain. Misalnya, cara dan gaya berbusana didaerah panas  dan tandus belum tentu cocok dikenakan didaerah pegunungan yang sejuk dan dingin.

Selain itu, sebagai agama rahmatan lil’alamin, syariat Islam dituntut untuk selalu sholih li kulli zaman wa makan. Selalu relevan diterapkan dimanapun dan kapanpun. Karena itu, ketika Nabi Muhammad saw memakai surban tidak serta merta menjadi tuntunan yang harus diikuti secara mutlak. Apa yang dipakai Nabi Muhammad saw harus diikuti oleh seluruh ummatnya diseluruh penjuru dunia. Yang tidak mau mamakainya dicap orang malas melaksanakan sunnah.

Tentang gaya,cara dan bahan busana yang boleh dipakai ummat Islam, ajaran Islam hanya membuat aturan normatif. Dalam Istilah Prof. K.H. Ali Mustopa Yaqub, apa pun gaya, cara dan bahan busana, yang penting harus memenuhi krteria 4 T. Yaitu tertutup aurat, tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai lawan jenis, plus tidak mencolok atau berlebihan.[12]  

Dan untuk konteks Indonesia, Prof. Ali menilai bahwa surban merupakan pakaian kehormatan ulama. Hal ini tercermin dari mayoritas ulama Indonesia memakai surban seperti pendiri ormas Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan dan pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh K.H  Hasyim Ays’ari. Sayangnya belakangan ini stigma kehormatan ulama itu tercedrai oleh segelintir badut yang menggunakan surban sebagai bahan memacing tawa orang.[13]

Masih dalam pandangan Prof. K.H. Ali Mustofa Yaqub, MA, Nabi Muhammad saw memakai surban tidak lepas dari  konteks budaya arab. Sebab bagaimanapun beliau hidup dilingkungan arab, dimana memakai surban menjadi bagian dari kebudayaannya. Dan jenis pakaian jubah dan surban sangat cocok didaerah padang pasir yang kering, berdebu dan tandus.[14]

Kendatipun anggapan bahwa Nabi Muhammad saw tidak lepas dari konteks budaya arab dapat diperdebatkan, namun hemat penulis pandangan tersebut dapat dimengerti. Adalah hal sulit dimengerti bila Nabi Muhammad saw yang sangat bijak “memaksakan” agar cara dan gaya berbusana harus diikuti oleh seluruh ummatnya dimanapun ia berada dan dilingkungan apapun ia berada. Pemaksaan ini tentu akan mencedrai universalitas Islam sebagai agama seluruh ummat.

Karena itu, hadits-hadits yang meriwayatkan Nabi Muhammad saw memakai hendaknya difahami bukan hanya secara tekstual, melainkan juga kontekstual  dan proporsional. Tanpa memaksakan harus tekstual atau kontekstual.

 

Pemaksaan Pemahaman yang Keliru

Banyak ummat Islam di Indonesia beranggapan bahwa memakai surban mutlak sunnah Nabi Muhammad saw. Pemakainya bahkan bukan cuma dianggap pelaksana sunnah yang mendapat pahala dan status sosial sebagai orang shalih. Bahkan memakai surban sudah menjadi identitas  keulamaan. Seseorang baru dianggap sebagai ulama ‘betulan’ bila sudah memakai surban. Boleh dikatakan surban sudah menjadi toga kehormatan ulama seperti yang  telah penulis kemukakan diatas.

Anggapan tersebut tentu tidak salah sepanjang tidak menganggap miring orang yang tidak memakai surban dengan alasan  bukan karena menganggap memakai surban tidak berpahala.

 

Hadits-hadits Palsu tentang Keutamaan Memakai Surban

Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa  Syaikh al-Mubarakfuri menilai bahwa hadits-hadits tentang keutamaan memakai surban semuanya lemah bahkan ada yang palsu. Sayangnya keyakinan keutamaan bersurban dengan dasar hadits-hadits itu sudah sangat mengakar. Bukan memakai surban yang menjadi persoalannya. Tetapi berpijak pada dasar yang dipertanyakanlah yang menjadi masalah.

Berikut ini adalah sebagian contoh hadits-hadits bermasalah tersebut ;

 

ركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة

“Shalat dua rakaat dengan mamakai surban itu lebih baik daripada shalat tujuh puluh rakaan dengan tanpa memakai surban.”[15]

 

صلاة بعمامة تعدل خمسا وعشرين صلاة بغير عمامة. وجمعة بعمامة تعدل سبعين جمعة بغير عمامة

“Shalat satu kali dengan memakai surban lebih baik dibanding shalat dua puluh lima kali dengan tanpa memaka surban. Shalat jum’at satu kali dengan memakai surban lebih baik dibanding shalat jum’at tujuh puluh kali dengan tanpa memakai surban.”[16]

 

الصلاة في العمامة بعشر الاف حسنة

“Shalat satu kali dengan memakai surban sama dengan berbuat seribu kebajikan”[17]

 

صلاة علي كور العمامة يعدل ثوابها عند الله غزوة في سبيل الله

“Shalat satu kali dengan memakai lilitan surban, sama dengan pahala perang fi sabilillah.”[18]

Dikalangan pesantren, ada satu kitab yang sangat populer yaitu Tanqih al-Qoul  yang memuat secara khusus bab tentang keutamaan memakai surban. Diantara keutamaannya seperti yang tercantum dikitab tersebut adalah ;

 

تعمموا  فان الشياطين لا تتعمموا

“ Memakai surbanlah !  karena setan-setan tidak memakai surban.”[19]

Penutup

            Dari pemaparan diatas tentang surban dan hadits-haditsnya, maka dapat ditarik benang merah sebagai berikut ;

  1. Nabi Muhammad saw berdasarkan hadits-hadits shahih dalam banyak kesempatan memakai surban.
  2. Hadts-hadits keutamaan memakai surban dinilai para ahli hadits semuanya lemah bahkan ada yang palsu.
  3. Hadits-hadits tentang surban dapat difahami secara kontekstual dengan tanpa mengesampingkan pemahaman tekstual.
  4. Terlepas apa yang melatar belakangi Nabi Muhammad saw memakai surban, memakai surban dapat dikatagorikan sunnah sepanjang dengan niat yang baik.
  5. Islam memberikan batasan normatif terkait dengan cara, gaya dan bahan busana ummat muslim, yaitu  tertutup aurat, tidak transparan, tidak ketat, tidal menyerupai lawan jenis, tidak terlalu mencolok dan berlebihan.

 

Wallahu  a’lam bishshawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

– Al-Qur’an dan terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, DEPAG, 1979

–  Abdul Baqi, Muhammad Fuad, al-Mu’jam al-Mufahros li al-Fazh al-Hadits, Dar Al-Fikr, Beirut, tth.

–  Abu Dawud al-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Dar al-Hadits, Himsh, tth.

–  Ali Mustofa Yaqub,Prof.KH.M.A, Haji Pengabdi  Setan, Pustaka Firdaus, Cet. 2, th 2006

———————————–, Hadis-hadis Bermasalah, Pustaka Firdaus, Cet. 5. thn. 2007.

–  Al-Albani, Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, al-Maktab al-Islami, Beirut,1398 H

–  Al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah,tth.

–  Al-Nasa’i, Sunan al-Nasa’i, al-Maktabah al-Ilmiyyahm Beirut,tth.

–  Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Dar al-Fikr, 1406/1986

–  Al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, Dar al-Fikr, Beirut, tth.

–  Muslim bin al-Hallaj, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia,tth.

–  Ibn Majah al-Qizwini, Sunan Ibn Majah, Dar al-Fikr al-Arabi.

–  Ibn Arroq al-Kannani, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah min al-Hadits sl-Syani’ah     al-Maudhu’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut 1401/1981

–   Muhammad bin Umar al-Nawawi, Tanqih al-Qoul al-Hadits, Syirkah Maktabah al-Madaniyyah, tth


[1], Al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, Dar al-Fikr, Beirut, tth hal. 33

[2] Al-Syaukani, Op-Cit. Hal. 37

[3] Ali Mustofa Yaqub,Prof.KH.M.A, Haji Pengabdi  Setan, Pustaka Firdaus, Cet. 2, th 2006 Hal. 223

[4]  Muslim bin al-Hallaj, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia,tth , II/990

[5]  Abu Dawud al-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Dar al-Hadits, Himsh, IV/340

[6]   Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Dar al-Fikr, 1406/1986;III/139

[7]  Al-Nasa’i, Sunan al-Nasa’i, al-Maktabah al-Ilmiyyahm Beirut,tth ;V/201

[8]  Ibn Majah al-Qizwini, Sunan Ibn Majah, Dar al-Fikr al-Arabi ,tth,II/1186

[9]   Muslim bin al-Hallaj, Op-Cit. I/231

[10] Al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah,tth. Hlm.59

[11] Muslim bin Al-Hallaj, Loc-Cit.

[12] Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan, Loc-Cit.

[13] Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Bermasalah, Pustaka Firdaus , cet.V/2007 ; hal.177

[14] Ibid

[15] Al-Albani, Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, al-Maktab al-Islami, Beirut,1398 H,hal. 160

[16];  II/124.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Muhammad bin Umar al-Nawawi, Tanqih al-Qoul al-Hadits, Syirkah Maktabah al-Madaniyyah, tth hlm. 23