CALO MENCIUM HAJAR ASWAD

Diantara yang paling diinginkan hampir semua yang melaksanakan haji atau umrah adalah dapat mencium hajar aswad. Sebuah batu diletakkan di sudut ka’bah -sudut dimana thawaf dimulai dan diakhiri- yang sunnah dicium.

Jika berhasil, jamaah biasanya menceritakan keberhasilannya itu kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dengan penuh kegembiraan. Tidak sedikit yang menceritakannya secara dramatis dan heroik.

Karena itu, tidak sedikit jamaah yang berusaha keras agar dapat mencium hajar aswad. Sekalipun dengan cara yang tidak patut. Misal, mendorong orang lain, berdesak-desakan antara laki-laki dan wanita, membahayakan keselamatan diri sendiri dan  orang lain. Contoh,  bagi orang yang memiliki penyakit asma, memaksakan diri mencium hajar aswad, sama saja mencelakakan diri sendiri. Bagi wanita berdesak-desak diantara kaum hawa yang sama-sama berebut mencium hajar aswad berpotensi merusak nilai ibadah thawafnya.

Bahkan memanfaatkan gairah jamaah untuk bisa mencium hajar aswad, segelintir orang secara berkelompok menawarkan jasa guide mengawal jamaah agar bisa mencium hajar aswad. Kelompok yang kebanyakan dari anak negeri sendiri ini, karena sudah terbiasa, dengan mudah dan tanpa mempedulikan antrian dan bahaya bagi orang lain  menyeruak kerumunan jamaah lain untuk memuluskan hasrat klienya. Tentu dengan meminta imbalan dari jamaah. Kalau dulu, sering ada cerita jamaah yang seolah dituntun malaikat sehingga dapat mencium hajar aswad, saat ini kuat dugaan itu bukan malaikat, melainkan calo. Subhanallah.

Sahabat Umar ra diriwayatkan ketika mencium hajar aswad berkata      : ‘ kalau bukan karena kekasihku Muhammad saw melakukannya, niscaya aku tidak akan menciummu.’  Karena itu kendati mencium hajar aswad sunnah, namun bukan berarti segala cara boleh dilakukan agar bisa menciumnya. Melaksanakan sunnah tidak boleh dengan cara makruh apa lagi haram. Sesuatu yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik dan jangan juga diiringi riya ketika bisa melaksanakannya.