FILOSOFI HILANG SANDAL

Sandal merupakan  kebutuhan penting bagi jamaah haji atau umrah. Jarak antara penginapan dengan masjid di kota suci, baik masjid al-Nabawi maupun masjid al-Haram yang terkadang cukup jauh, mengharuskan jamaah untuk juga berjalan cukup jauh. Selain jauh, cuaca yang terik dan kering mengharuskan jamaah untuk memakai sandal. Khusus untuk jamaah wanita biasanya malah menggunakan sepatu khusus yang dipersiapkan untuk dipakai selama di tanah suci.

Banyak orang memberi saran pada jama’ah untuk membawa sandal lebih dari sepasang. Selain karena sehari-hari banyak dipergunakan disana, juga karena sandal dianggap rawan hilang. Bahkan tidak sedikit yang mengaitkan hilangnya sandal di tanah suci dengan perbuatannya sebelum melaksanakan ibadah haji atau umrah atau saat melaksanakan haji atau umrah. Hilangnya sandal dikaitkan dengan hukuman atas suatu kesalahan. Karena itu ada juga jamaah yang bangga ketika sandalnya tidak hilang. Padahal kebanggaan naif semacam itu potensial merusak kemabruran ibadah haji atau umrahnya.

Semula, saya juga agak percaya dengan sugesti itu. Tetapi begitu menjejakkan diri di Masjid       al-Haram dan Masjid al-Nabawi, barulah saya dapat menerima secara rasional mengapa sandal dikedua masjid itu dapat mudah hilang. Karena copetkah? Tentu bukan.

Masjid al-Haram adalah masjid terbesar dan terluas didunia. Luasnya kurang lebih 656.000 m2 dengan daya tampung lebih dari 730 ribu jamaah di hari biasa dan 2 jt jamaah dimusim haji. Saat ini perluasan masih terus berlangsung untuk bisa memuat sebanyak 4 juta jamaah. Masjid al-Haram saat ini memiliki 4 pintu utama dan 45 pintu biasa. Belum termasuk pintu lantai 2 dan lantai 3.

Sementara masjdi al-Nabawi luasnya juga tidak kalah mentereng. Masjid berkapasitas lebih dari 600 ribu jamaah diluar musim haji ini luasnya  165.000 m2, memiliki 5 pintu utama dan 65 pintu lainnya. Total pintu jika ditambah dengan yang lantai atas mencapai 95 buah.

Dengan kondisi masjid yang seluas itu dan jumlah jamaah yang sangat banyak, tentu manusiawi sekali jika terjadi human error dalam pengambilan sandal yang dilakukan oleh jamaah. Bisa jadi satu waktu orang lain salah mengambil sandalnya. Disaat lain bisa jadi ia yang salah sehingga mengambil sandal milik orang lain.

Ala kulli hal, sandal hilang di tanah suci, dimasjid al-Haram dan masjid al-Nabawi hendaknya diikhlaskan saja. Dan ya sudah lah…