SESAMA SETAN DILARANG SALING MELONTAR

Melontar (jumrah) adalah salah satu wajib haji. pada prakteknya melontar adalah ritual melempari tiga buah tugu batu yaitu Ula, Wustha dan Aqobah pada tanggal 10-13 bulan Dzul-hijjah yang terdapat di area mina (jamarat). Masing-masing batu dilontar dengan tujuh kerikil yang diambil jamaah dari Muzdalifah, tempat singgah dari ‘Arofah sebelum mabit (menginap) di Mina. Pada tanggal 10 Dzul-hijjah yang di lontar hanya tugu Aqobah, sementara pada tanggal 11-13 Dzul-Hijjah ketiga tugu dilontar secara berurutan. Dalam ibadah  umrah, melontar tidak dilaksanakan.

Sebelum dilakukan pemugaran seperti sekarang, ketiga tugu jumrah hanya berupa tugu bulat kecil yang lonjong dan memanjang keatas. Tugu itu kemudian di kelilingi tembok bulat. Bayangkan, tempat sekecil itu dikerumuni oleh berjuta jamaah untuk melontar. Karena itu, dahulu banyak yang berseloroh bahwa final ibadah haji itu melontar. Taruhannya nyawa.

Saat ini jamarat di tata sedemikian rupa oleh pemerintah Saudi Arabia, sehingga jamaah dapat melontar dengan nyaman dan tidak kehilangan substansi sertka kesakralan ibadah melontar. Tugu melontar di perpanjang sehampir 12 meter. Ini membuat orang tidak terlalu berdesak-desakan dalam melontar. Kalau dulu sebelum pemugaran, agak mustahil secara mausiawi jamaah yang udzur dapat melontar, tetapi saat ini sering terlihat orang yang sudah sangat sepuh didorong kursi roda dapat melontar dengan tenang.

Tugunya pun ditinggikan sehingga tempat melontar dapat dibuat 4 lantai. Kedatangan jamaah memasuki area melontar juga diatur sedemikian rupa. Sehingga antara jamaah yang akan melontar dan sudah selesai melontar tidak bertabrakan jalan. Hal yang pernah menimbulkan ratusan jamaah meninggal dunia.

Banyak jamaah meyakini, bahwa melontar tugu itu pada dasarnya melontar setan. Karena itu, dalam melontar, seolah jamaah harus emosi. Saking emosinya, terkadang ada jamaah yang entah sengaja atau lupa melontarkan bukan Cuma batu kerikil, tetapi juga sandal serta benda apa saja yang ada disekitarnya. Juga terkadang saking emosinya, ada jamaah yang masih jauh dari tempat melontar sudah melontar. Sehingga yang terkena bukan tugu, tetapi jamaah yang ada didepannya. Jika benar dalam melontar yang dilontar pakai kerikil itu setan bisa jadi setan akan berkata kepada jamaah yang melontar ‘kesetanan’  itu, ‘sesama setan tidak boleh saling mengganggu’.

Namun jika ditelisik lebih jauh duduk soalnya bukanlah demikian. Ia lebih kepada ittiba (mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw). Walaupun ini tidak rasional, tentu tidak jadi persoalan. Sebab tidak semua tuntunan agama harus bisa difahami secara rasional.