PENIPU YANG TERTIPU

Pagi itu, sepulang dari Masjid al-Nabawi, saya kembali ke hotel tidak melalui jalan biasa. Kali ini bersama seorang sahabat satu kamar yang kebetulan sejak dari tanah air mendaftar haji bersama, pulang memotong jalan. Melaui sebuah tanah kosong seperti lapangan. Tidak menyisir jalan al-Awali al-Thali’. Saya tidak tahu jalan tersebut berada di sebelah mana Masjid al-Nabawi.

Ketika sampai di sebuah lorong, kami ditegur oleh seseorang berparas india menawarkan dua buah hand phone bermerk sangat terkenal pabrikan Finlandia. Melihat bentuk dan harga yang ditawarkan, sahabat saya agak tertarik. Terjadilah tawar-menawar harga sampai disepakati hand phone itu berpindah tangan dengan bandrol 400 riyal dari yang ditawarkan semula 750 riyal. Krang lebih satu juta rupiah jika satu riyal sama dengan dua ribu lima ratus.

Semula saya tidak tertarik untuk ikut membeli, tetapi setelah sahabat saya meyakinkan bahwa hand phone itu asli dan jika beli ditanah air harganya tidak kurang dari 3 juta rupiah, akhirnya saya juga ikut tertarik membelinya. Apalagi dalam benak saya, masa sih manager (sahabat saya bekerja sebagai manager disebuah perusahaan nasional yang ngetop) tertipu, tidak mengerti mana barang asli dan mana yang aspal.

Setelah tiba dikamar, kami lalu menceritakan apa yang baru saja kami beli kepada teman-teman satu kamar. Rupanya itu lah awal ‘demam’ belanja hp baru. Hampir semua teman sekamar yang berjumlah 13 orang membeli hp baru. Dan celakanya, sama seperti kami, semua tertipu. Karena belakangan saya baru menyadari bahwa semua hand phone yang kami beli, itu bukan asli. Melainkan made ini china yang walaupun bentuknya sama persis, tetapi spesifikasi, fitur dan kualitasnya jauh berbeda.

Dan lebih parahnya lagi, apa yang kami alami, dialami juga oleh banyak jamaah lain. Rupanya ada sindikat yang memasok dan menebar barang-barang palsu itu khusus pada jamaah haji selama musim haji. pandai betul mereka memanfaatkan celah, dimana dengan rata-rata jamaah memiliki pengetahuan yang minim terhadap alat eleketronik, tapi selalu ingin membeli barang-barang bermerek dengan harga yang murah.

Maksud hati ingin bergaya, ee malah tertipu. “penipu” yang tertipu.