SAMBUTAN PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW YANG DISELENGGARAKAN MWC NU JONGGOL 

TANGGAL 28 RABI’UL AWWAL 1430 H/25 MARET 2009

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

 

 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ                                 (البخاري : 3412, مسلم : 4775)

 

 

 

  1. Ucapan Terimakasih pada seluruh jamaah yang mendukung suksesnya acara. Terutama pada : seluruh jajaran panitia, Pimpinan Kosub dan seluruh donator, para pengurus MWC NU dari kec. Jonggol, Cileungsi, Sukamakmur,Cibarusah, Cariu, Tanjung Sari dan  Bojongmangu.

 

  1. Mengajak seluruh Warga Nahdliyyin khususnya dan Ummat Islam umumnya, bil kusus lagi para tokoh agama untuk meningkatkan ibadah ijtima’iyyah melalui peningkatan khidmah (pelayanan) terhadap ummat yang diantaranya :

 

 

  1. Khidmah Ta’limiyyah (memberikan pengajaran, pendidikan dan pencerahan keagamaan) melalui Majlis Ta’lim, Masjid, Musholla, Pondok Pesantren dan lain-lain. Sejauh ini khidmah ta’limiyyah yang sudah dilakukan sudah luar biasa. Saya tidak tahu jika tidak karena khidmah para tokoh agama akan bagaimana jadinya wajah ummat Islam diwilayah kita saat ini. Namun mengingat ke depan tantangan zaman lebih berat lagi, maka diperlukan keuletan, kesabaran, kreatifitas serta pengembangan khidmah ta’limiyyah. Jika tidak, maka lambat laun Khidmah Ta’limiyyah yang kita lakukan akan kurang mendapat respon dan tidak lagi memadai bagi dahaga pengetahuan agama ummat.

Sebagai contoh, diwilayah kita, saat ini sudah banyak Pesantren yang mati suri. Plang nama, bangunan dan Kiainya masih ada, tapi santrinya sudah tidak ada. Apakah ini karena masyarakat sudah tidak lagi percaya terhadap pesantren, atau pelayanan pesantren dianggap sudah tidak lagi memadai bagi kebutuhan ummat? Tentu ini harus kita renungkan!

Banyak bangunan madrasah diniyyah sudah banyak yang tidak layak pakai dan lebih parah dari itu banyak madrasah diniyyah yang sudah tidak ada muridnya. Ini juga harus difikirkan. Sebab bagaimanapun Madrasah Diniyyah adalah salah satu pilar yang membentengi dan membekali umat Islam dalam menjalankan kehidupan beragama.

 

  1. Khidmah Iqtshodiyah (Pelayanan bagi peningkatan ekonomi Ummat). Salah satu persoalan besar yang dihadapi ummat Islam diwilayah kita adalah masih banyak ummat Islam yang hidup dibawah garis kemiskinan (dhu’afa). Kondisi ini tentu menyulitkan ummat untuk dapat berkembang. Lebih menyulitkan lagi ternyata masih banyak pula tokoh agama baik para ajengan maupun asatidz yang juga termasuk kalangan dhu’afa. Sudah jamaahnya didominasi oleh kalangan mustahiq Ustadz dan Kiainya pun demikian. Kumaha Kiai jeng Ustadz arek berbicara zakat, mustahiq na manehna !

Karena itu, kebetulan hadir ditengah-tengah kita Salah seorang Rois Syuriah PBNU (KH Magfur Usman), Ketua PC NU Kab. Bogor, saya mohon agar persoalan dicarikan solusinya. Saya berharap NU sebagai jam’iyyah ijtima’iyyah bukan cuma dapat mencerahkan rohani, tetapi juga dapat memberi solusi ekonomi sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Adalah benar Rasulullah Saw pernah bersabda :

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِر

  (مسلم :5256, الترمذي :2246, ابن ماجه :4103, احمد :7939)

 

Hadist diatas sering disalah artikan sebagai justisifikasi kertepurukan ummat Islam. Padahal maksudnya tidak demikian. Tentang Hadits diatas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dunia bagi orang beriman bagaikan penjara adalah karena orang yang beriman di dunia harus mengekang diri dari syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan, diharuskan mengerjakan berbagai kewajiban yang berat. Setelah mati, ia terbebas dari keharusan itu dan mendapat kenikmatan abadi yang disediakan Allah. Sementara orang yang tidak beriman mengalami sebaliknya yang dialami oleh orang yang beriman. (Syarah Muslim Oleh Al-Nawawi (9) : 345)

Dicereitakan pada suatu hari, Imam Ibn Hajar al-Asqolani pergi ke pasar dengan menaiki kendaraan mewah (bahgol yang besar), pakaian dan asesoris serba mewah. Kedatangan beliau agaknya diperhatikan oleh seorang warga Yahudi yang tengah berbelanja minyak panas dengan pakaian kumuh dan berlumur minyak. Orang Yahudi itu  menghampiri Ibn Hajar lalu bertanya             “ wahai Syaikh, bukankah Nabi anda pernah berkata : dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir? Mana neraka buat anda dan mana surga buat saya ? (Kenyataannya Syaikh hidup mewah sementara orang Yahudi  sebaliknya).  Imam Ibn Hajar menjawab,  seperti inilah kehidupan saya di dunia yang ibarat penjara dibanding  kehidupan saya kelak yang penuh kenikmatan yang disediakan  Allah, sementara anda saat  ini bagaikan hidup disurga dibanding kehidupan diakhirat kelak yang penuh dengan siksaan.” Mendengar jawaban itu, orang Yahudi itu kemudian masuk Islam.  (Faidhul Qodir (3) : 370)

MWC NU bukannya tidak memikirkan. Persoalannya bagi MWC NU hal ini ibarat pepatah besar pasak daripada tiang. Tidak mungkin dikerjakan sendiri.

 

  1. Pelayanan Kesehatan. Memang sakit bukan monopoli faqir miskin, orang kayapun banyak yang sakit. Persoalannya, kalau orang kaya dapat membiayai ongkos berobatnya sementara fakir miskin tidak. Ingat biaya kesehatan tidak murah apalagi gratis. Pemerintah juga sudah berusaha memberikan pelayanan bagi warga miskin dengan program Jamkesmas dan Jamkesda, Cuma lagi-lagi muncul persoalan, kartu Jamkesmas atau Jamkesda sering salah sasaran.

Kalau saya ketua Komisi Fatwa MUI, saya akan keluarkan Fatwa haram bagi masyarakat yang mampu memiliki Jamkesmas atau Jamkesda. Karena dengan memiliki kartu itu, mereka telah merampok dan berbuat zhalim terhadap warga yang miskin.

MWC NU Jonggol melalui LS NU, memang sudah berusaha meringankan beban masyarakat miskin terkait persoalan kesehatan, LS NU sudah mengadakan pengobatan gratis di beberapa desa, Pendampingan ke Rumah Sakit, Program khitan gratis (terus-menerus dan tidak dimasalkan) bagi anak yatim atau dhu’afa, donor darah yang dilakukan setiap empat bulan sekali, bahkan ada beberapa dokter (Dr. Parno dan Dr. Triono) semoga Allah memberikan limpahan rahmat dan keberkahan pada mereka, yang memberikan pelayanan gratis pada pasien dhu’afa yang digaransi oleh LS NU. Dengan kata lain sebetulnya seakan ada Jamkesmas dari LS NU bagi warga yang dhu’afa. Pokoknya melalui rekanan dokter-dokter, warga silahkan berobat gratis asal mau miskin dan sakit saja!

Mohon doa dan dukungan, saat ini LS NU tengah berusaha untuk memiliki mobil ambulance untuk mengantar pasien ke Rumah sakit dan Mengantar Jenazah.

 

  1. Perkuat Ukhuwwah Islamiyyah. Ummat Islam jangan mudah terpecah belah. Apalagi Bogor dan Bekasi  termasuk wilayah penyangga ibu kota. Dan bukan hal yang mustahil kelak kalau rencana kota megapolitan terealisasikan, wilayah kita menjadi bagian dari ibu kota. Konsekwensinya tentu ada. Diantaranya, masyarakat seiring dengan maraknya kaum pendatang menjadi majemuk, beragam. Termasuk beragam paham keagamaan dan ormas.

Keberagaman ini jangan sampai menjadi pemicu retaknya ukhuwwah Islamiyyah. Adalah alamiyyah jika kita bangga dengan ke NU an kita. Tetapi saya harap hal ini jangan sampai membuat kita lalu merasa yang terbaik sementara orang lain salah. Mari kita berjuang melalui NU untuk izzul Islam wal Muslimin, dengan mempersilahkan dan bahkan bekerjasama dengan mereka yang berbeda ormas dengan kita.

Saya berharap ummat Islam diwilayah Bogor dan Bekasi ,warga NU pada khususnya, dengan tetap berpegang teguh pada tuntunan Ahlus Sunnah wal Jama’ah  untuk tidak bersikap eksklusif, dan menutup diri. Ingat kita punya semboyan :   المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الاصلح .

 

  1. Untuk yang kesekian kalinya saya sampaikan bahwa NU bukanlah partai politik. Bahwa ada  partai politik yang dibentuk oleh orang-orang  NU itu betul. Missal PPP, PKB, PNUI, PKNU dan lain-lain. Karena itu warga NU dalam Pemilu  dibebaskan untuk memilih partai yang diyakininya sesuai dengan ajaran Islam dan dapat berjuang untuk kepentingan Islam dan ummat Islam.

Begitupun dalam Pilgub, Pilbup dan lain-lain, Warga NU Jonggol pada khususnya dibebaskan untuk memilih. Terserah mau yang mana. Dan kalau ada warga NU yang jadi kader partai tertentu diharap jangan membawa-bawa NU.

 

عن عبد اللَّهِ بن سَلَامٍ قَالَ  لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ قِبَلَهُ وَقِيلَ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ثَلَاثًا فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ          (ابن ماجه : 3242, أحمد : 22668, الحاكم : 4250)