Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Khutbah Idul Adha                                                                                  Lapangan Citra Indah 10 Dzul Hijjah 1334 H/15 Oktober 2013

اللهُ أكْبَرُ × 9

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى سيّدِنَا وحَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

Ma’asyirol muslimin, jamaah shalat idul adha yang berbahagia.

Kembali kita bersama berjumpa dengan hari yang mulia, dibulan yang mulia dengan melaksanakan ibadah yang mulia pula yaitu shalat idul adha. Sungguh ini adalah suatu anugrah yang tidak terhingga dari Allah Swt yang harus kita syukuri.

الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ

Hari ini, 1424 tahun yang lalu, pada tahun 10 H, saat Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji yang kemudian dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan), ketika di Mina disebuah  lembah, masih di atas unta, Nabi berhenti dan kemudian berkhutbah di depan lebih seratus ribu orang yang hadir saat itu, khutbah yang populer dengan sebutan khutbatul wada’ (khutbah perpisahan).

Ada beberapa pesan penting yang disampaikan oleh Rasulullah Saw saat itu. Diantaranya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari sahabat Abi Bakroh ra :

عن أَبي بكْرة نُفَيْع بن الحارث – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَته يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرضَ : السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرَاً ، مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ : ثَلاثٌ مُتَوالِياتٌ : ذُو القَعْدَة ، وذُو الحِجَّةِ ، وَالمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشعْبَانَ ، أيُّ شَهْر هَذَا ؟ )) قُلْنَا : اللهُ وَرَسُولُهُ أعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَننَّا أنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ ، قَالَ : (( ألَيْسَ ذَا الحِجَّةِ ؟ )) قُلْنَا : بَلَى . قَالَ : (( فَأيُّ بَلَد هَذَا ؟ )) قُلْنَا : اللهُ ورَسُولُهُ أعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيرِ اسْمِهِ . قَالَ : (( ألَيْسَ البَلْدَةَ ؟ )) قُلْنَا : بَلَى . قَالَ : (( فَأيُّ يَوْم هَذَا ؟ )) قُلْنَا : اللهُ ورَسُولُهُ أعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بغَيرِ اسْمِهِ . قَالَ : (( ألَيسَ يَوْمَ النَّحْرِ ؟ )) قُلْنَا : بَلَى . قَالَ : (( فَإنَّ دِمَاءكُمْ وَأمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عليكم حَرَامٌ ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا في بَلَدِكُمْ هَذَا في شَهْرِكُمْ هَذَا ، وَسَتَلْقُونَ رَبَّكُمْ فَيَسْألُكُمْ عَنْ أعْمَالِكُمْ ، ألا فَلا تَرْجعوا بعدي كُفّاراً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْض ، ألا لَيُبَلِّغ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يَبْلُغُهُ أنْ يَكُونَ أوْعَى لَهُ مِنْ بَعْض مَنْ سَمِعَهُ )) ، ثُمَّ قَالَ : (( إلاَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، ألاَ هَلْ   بَلَّغْتُ ؟ )) قُلْنَا : نَعَمْ . قَالَ : (( اللَّهُمَّ اشْهَدْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .   [1]  

Sesungguhnya zaman terus berputar seperti  dalam keadaan langit dan bum diciptakan oleh Allah. Satu tahun terdiri dari 12 bulan. Dari 12 bulan itu ada 4 bulan yang di muliakan. Tiga berurutan, yaitu Dzul-Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharrom. Satu terpisah yaitu Rajab yang terletak antara Jumadil Ula dan Sya’ban.

Rasul bertanya : sekarang bulan apa? Kami menjawab Allah dan Rasulullah yang lebih tahu. Beliau terdiam sehingga kami menyangka beliau akan menyebutnya dengan sebutan lain. Beliau lalu bersabda, bukankah saat ini bulan Dzul Hijjah? Kami menjawab betul. Kemudian beliau bertanya : apa nama tempat ini? Kami menjawab : Allah dan Rasulullah yang lebih tahu. Beliau terdiam lagi sehingga kami menduga beliau akan menyebutnya dengan sebutan lain. Beliau bersabda : Bukankah ini Tanah Haram? Kami menjawab : Allah dan Rasulullah yang lebih tahu. Beliau lalu bertanya lagi. Bukankah sekarang hari Nahar (hari raya qurban) ? kami menjawab : betul.

Beliau kemudian berpesan : sesungguhnya darah kalian,harta kalian dan kehormatan kalian haram (mulia) atas kalian. Sebagaimana lemuliaan hari ini, negeri ini dan bulan ini. Kalian kelak akan bertemu dengan Tuhan kalian dan Dia akan mempertanyakan perbuatan kalian. Karena itu, kalian jangan kembali kufur sepeninggalku, dengan memenggal leher sebagian kalian. Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Bisa jadi sebagian yang menyampaikan lebih perhatian terhadap sebagian yang mendengarkannya.

Beliau kemuan bersabda lagi : bukankah sudah aku sampaikan? Kami menjawab, betul. Kemudian beliau berdoa : ya Allah saksikanlah !

Hari ini pesan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw sengaja saya dengungkan kembali karena kita mendapatkan kesan saat ini ukhuwwah antar ummat Islam sangat rentan. Bahkan di beberapa Negara, ummat Islam saling bunuh satu sama lain.

Akibatnya saat ini dari jumlah 1,57 milyar ummat Iuslim di dunia, 23 % dari total keseluruhan penduduk dunia yang berjumlah 6,8 milyar[2] kebanyakan    masih tertinggal dalam banyak hal dibanding ummat lain[3]. Padahal,  ummat Islam diawwal generasi  pernah mendapuk kejayaan (sek. 750 M – sek. 1258 M)  . Ketertinggalan amat kentara misal :

dalam hal ekonomi : konteks Indonesia,  ummat Islam yang prosentasinya mencapai  85 % ternyata mungkin penguasaan ekonominya hanya 15 %. Contoh real, perhatikan jalur transyogi antara Cileungsi sampai cibubur. Dulu sebelum ramai, kepemilikan lahan di area tersebut 90 % dikuasai ummat Islam, tetapi saat ini, ummat Islam hanya menguasi lahan sekitar 10 %. Padahal tidak ada dalam ajaran Islam sedikitpun tuntunan agar ummatnya terpuruk secara ekonomi. Kewajiban melaksanakan ibadah haji, zakat, anjuran kuat untuk berinfak, melaksanakan npenyembelihan hewan kurban, semua mengisyaratkan agar ummat Islam memiliki ekonomi yang kuat. Allah Swt berfirman :

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ  (الأعراف (7) : 32)

Bahkan Rasulullah Saw menyatakan :

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ في طَرِيق فَاضطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رواه مسلم .[4]

Tentu kita tidak boleh memahami hadits diatas secara tekstual saja, dengan bila bertemu dengan non muslim (yahudi dan nasroni adalah representasinya) di jalan lalu memepet mereka. Melainkan Rasulullah Saw melalui hadits diatas memberikan pesan agar kita harus senantiasa berkompetisi dengan non muslim dan mengalahkan ekonomi mereka. Spirit dari sabda Rasul  “bila bertemu dengan mereka pepetkan mereka ke jalan yang sempit” adalah  agar ummat ummat Islam menguasai jalan. Menguasai jalur-jalur stategis, menguasai jalan-jalan utama. Bukan sebaliknya yang menguasai lahan-lahan di jalan utama non muslim, sementara ummat Islam menguasai jalan-jalan sempit, ruko-ruko strategis dikuasai non muslim, ummat Islamnya masuk ke kios-kios kecil atau pedagang kaki lima.

dalam hal politik : ummat Islam terkesan menjadli buan-bulanan ummat lain. Apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw saat ini kita dapat saksikan. Missal Irak, sebuah Negara muslim di keroyok amerika cs dengan dukungan dari liga arab yang merupakan representasi Negara-negara Islam. Hal yang  juga hampir saja terjadi pada Suriah. Rasulullah Saw bersabda :

عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه و سلم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يوشك ان تداعى عليكم الأمم من كل أفق كما تداعى الآكلة على قصعتها قال قلنا يا رسول الله أمن قلة بنا يومئذ قال أنتم يومئذ كثير ولكن تكونون غثاء كغثاء السيل ينتزع المهابة من قلوب عدوكم ويجعل في قلوبكم الوهن قال قلنا وما الوهن قال حب الحياة وكراهية الموت (أحمد : 22450)[5]

 

dalam hal iptek : ummat lain sudah mencapai bulan, menjadikan bulan dan planet lain sebagai tujuan rekreasi, ummat islam masih berselisih soal bagaimana melihat bulan. Akibatnya hampir setiap penentuan awwal bulan hari raya, perselisihan itu dapat disaksikan.

Penyebab ukhuwwah ummat Islam lemah.

Ada banyak factor yang menyebabkan ini terjadi.  Dan salah satunya adalah lemahnya ukhuwwah islamiyyah. Lalu mengapa ukhuwwah islamiyyah ummat begitu lemah? Ada banyak jawaban mengenai hal ini. Diantaranya adalah :

a.       Egoisme, baik egoism individu mau pun kelompok. Memang adalah kecenderungan alamiyah bahwa setiap individu atau kelompok bangga terhadap diri maupun kelompoknya. Tetapi jangan sampai ini kemudian menimbulkan perasaan bahwa ia lah yang paling benar. Ummat Islam adalah ummat yang satu, jangan sampai kita menjadi pemecah belah ummat. Firman Allah Swt :

 

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ  فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu[1006], dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku.kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Q.S. Al-Mu’minun (23):  52-53)

 

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Q.S. Al-Rum (30) : 31-32)

 

 

b.      Keterbatasan pengetahuan. Akibatnya ia hanya menganggap kebenaran sebatas yang diketahuinya saja. Atau lebih celaka lagi jika ia tidak tahu tapi menganggap diri tahu. Dalam Islam, kebanaran tidaklah seperti rumus matematika.  Jika ada suatu satu perbedaan pendapat, bisa jadi keduanya benar, salah satu dari keduanya salah, atau bahkan kedua-duanya salah. Sebagai contoh :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ اَلصَّلَاةَ -وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ- فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا اَلْمَاءَ فِي اَلْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا اَلصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدِ اَلْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْتَ اَلسُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلْآخَرِ: لَكَ اَلْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَو النَّسَائِيّ

Upaya memperkuat Ukhuwwah ummat Islam

1.      Tanamkan kuat-kuat dalam sanubari bahwa sesema muslim itu saudara yang bagaikan satu bangunan, satu tubuh, tidak boleh saling sakiti dan dengki.

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurot :10)

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا     (سورة الفتح (48) : 29)

 

عن أَبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( المُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً )) وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .[6]

 

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهمْ وَتَعَاطُفِهمْ ، مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .[7]

Sungguh tidak elok ketika ada seorang muslim bisa bersikap toleran, mesra dengan non muslim sementara dengan sesame muslim tidak dapat toleran dan bersahabat.

 

2.      Jangan egois dan merasa diri paling benar serta paling baik

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri ] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.  (Q.S. Al-Hujurot :11)

 

 

3.      Jadikan perbedaan dalam ummat, baik antara yang mengaku bermazhab atau tidak, antar ormas, parpol dan lain-lain. Perbedaan harus dipandang sebagai kekayaan khazanah yang mempermudah ummat untuk berlomba dalam kebaikan.

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ     (سورة المائدة (5) : 48)

 

4.      Jangan alergi dengan perbedaan pendapat. Sebab jangankan kita yang hidup jauh dengan masa Rasulullah Saw, para sahabat saja yang Al-Qur’an turun kepada mereka, hidup dalam bimbingan wahyu biasa berbeda pendapat dalam mengapresiasi suatu ayat atau hadits.tidak terbayang oleh saya andai mereka selalu memperbesar perbedaan pendapat diantara mereka, mungkin Islam tidak akan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Para sahabat berhasil berdamai dengan berbagai perbedaan diantara mereka sehingga bisa konsentrasi menyebar dakwah pada seluruh manusia, menyebar Tauhid pada yang belum beriman (dakwah ekternal). Sementara energy kita saat ini habis hanya untuk dakwah internal, dan dakwah eksternal terabaikan. Saudara-saudara kita yang non muslim, walau minoritas, senantiasa memikirkan agar kita bisa masuk agama mereka, sementara kita, walau punya tetangga non muslim hampir tidak pernah memikirkan bagaimana agar tetaangga itu mendapat hidayah.

Sampai kapan pun, untuk berbagai persoalan khilafiyah furu’iyyah semisal persoalan ihda’ al-tsawab, pemahaman terhadap isbal, memelihara jenggot dan lain-lain tidak akan ada kesepahaman. Karena itu memang ranah ijtihadi yang kita diperbolehkan berbeda pendapat.  Titik temunya adalah kita sepakat untuk berbeda. Tetapi walau berbeda, mari rangkulan karena kita adalah saudara.

 

5.      Jangan Mudah menganggap muslim lain pelaku bid’ah atau bukan ahlus sunnah wal-jama’ah. Menganggap bid’ah orang yang shalat tarawih 20 rokaat, sama saja dengan menganggap sahabat Umar ra biangnya bid’ah. Perlu diketahui, samapai saat ini di Masjid al-Harom mau pun Nabawi, shalat tarawihnya 20 rokaat. Begitupun menganggap azan jum’at 2 kali bid’ah, sama saja dengan menganggap sahabat Utsman dedengkot bid’ah. Memangnya siapa kita dibanding beliau berdua mertua dan menantu Nabi Saw. Adalah keliru menganggap yang tidak qunut subuh bukan ahlus sunnah wal-jamaah  keliru, sebab Imam Abu Hanifah (salah satu imam madzhab empat) tidak melakukannya. Bahkan banyak riwayat menceritakan ketika imam Syafi’i mengimami shalat subuh di komplek pemakanan Imam Abu Hanifah, beliau tidak melakukan qunut karena menghormati sohibul maqom. Sama kelirunya dengan orang yang menganggap bermakmum pada orang yang membaca basmalah sir tidak sah. Sebab, itu pendapat yang dianut oleh imam Malik (guru imam Syafi’i). dan masih banyak contoh lain terkait hal ini.

Biarkan yang bid’ah sunnah itu menjadi otoritas ulama.

 

6.      Tutup pintu perselisihan dengan ,mengembalikan kebenaran kepada Allah dan Rasulnya. Sebab masing-masing kita hanya berusaha menjalankan perintah Allah dan Rasul sesuai apa yang dapat kita fahami dari firman Allah dan sabda Rasul, apakah faham kita dan apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul atau bekum, hanya Allah dan Rasul yang tahu. Jangan-jangan ketika kita merasa paling sesuai dengan Qur’an dan Sunnah sementara menurut Allah dan Rasul tidak sesuai.

 

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ          (سورة الأنعام 06) : 159)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

 

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ         (سورة الأنعام 06) : 159)

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

 

 

 

 

Pesan Rasulullah Saw

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم  – لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا, وَلَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَدَابَرُوا, وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ, وَكُونُوا عِبَادَ اَللَّهِ إِخْوَانًا, اَلْمُسْلِمُ أَخُو اَلْمُسْلِمِ, لَا يَظْلِمُهُ, وَلَا يَخْذُلُهُ, وَلَا يَحْقِرُهُ, اَلتَّقْوَى هَا هُنَا, وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ, بِحَسْبِ اِمْرِئٍ مِنْ اَلشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ اَلْمُسْلِمَ, كُلُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ حَرَامٌ, دَمُهُ, وَمَالُهُ, وَعِرْضُهُ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. ([8])

 

 


[1] عن أَبي بَكْرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ في خُطْبَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنًى في حَجَّةِ الوَدَاعِ : (( إنَّ دِماءكُمْ ، وَأمْوَالَكُمْ ، وأعْرَاضَكُمْ ، حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، في شَهْرِكُمْ هَذَا، في بَلَدِكُمْ هَذَا، ألا هَلْ بَلَّغْتُ )) متفق عَلَيْهِ. 

[2]  World Religions Database 2013

[3] Di Indonesia ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa yang beragama Islam dari total 234.693.997 jiwa penduduk

[4]   أخرجه : مسلم 7/5 ( 2167 ) ( 13 ) .

[5] مسند الإمام أحمد بن حنبل, المؤلف : أحمد بن حنبل أبو عبدالله الشيباني, الناشر : مؤسسة قرطبة – القاهرة (5) : 278

[6] أخرجه : البخاري 3/169 ( 2446 ) ، ومسلم 8/20 ( 2585 ) ( 65 ) .

[7] أخرجه : البخاري 8/11 ( 6011 ) ، ومسلم 8/20 ( 2586 ) ( 66 ) . 

[8] صحيح. رواه مسلم (2564).