Bahtsul Masa’il

  1. Definisi Bahtsul Masa’ilIstiah bahtsul masa’il, walaupun lebih familier dikalangan Nahdlatul Ulama (NU), dimana dalam setiap muktamar, bahtsul masa’il menjadi agenda utama selain pemilihan pimpinan organisasi, tetapi pelaksanaannya dilakukan oleh berbagai lembaga dan ormas Islam di Indonesia. Misal MUI dengan Komisi Fatwa dan Muhammadiyah dengan Majlis Tarjih. Hanya saja, dilingkup Nahdlatul Ulama, bahtsul masa’il dalam menetapkan hukum suatu persoalan tidak mengambil dalil secara langsung dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. [2]     Bahtsul masa’il adalah upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kompetensi dalam membahas hukum dari satu atau beberapa masalah dengan mengambil dalil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dalam pengertian ini maka bahtsul masa’il adalah bentuk ijtihad terhadap satu atau beberapa persoalan yang memerlukan pijakan hukum yang dilakukan secara kolektif (jama’i).[1]
  2. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam bahtsul masa’il
  1. Hukum yang ditetapkan harus selaras dengan maqashid al-syari’ah yang bermuara pada al-maslahah al-‘ammah.[3]
  2. Agar produk hukum selaras dengan apa yang dikehendaki oleh Syari’, atau paling tidak mendekatinya, maka siapapun yang akan melakukan istinbath harus memahami maqashid al-syari’ah.[4]
  3. Al-Qur’an dan al-Sunnah  tidak mengatur berbagai persoalan “mu’amalat” yang meliputi banyak aspek kehidupan, diantaranya  masalah sosial, ekonomi, kebudayaan, politik berikut hukum-hukumnya secara detil, melainkan menetapkan dasar-dasar (mabadi) yang bersifat normatife mencakup moral dan etis. Contoh yang dapat dikemukakan dalam hal ini  pandangan Islam terkait busana yang Islami. Dalam hal busana, Al-Qur’an dan al-Sunnah tidak menetapkan standar yang detil dan baku dan hanya menetapkan standar normative. [5]Hukum-hukum yang berdiiri diatas landasan yang berubah dan berkembang, niscaya akan berubah dan berkembang juga.  ( لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان والأزمنة والأحوال ). Namun bukan berarti ketetapan islamnya yang beubah-ubah. Dinamika dan fleksibilitas itulah justru salah satu hal yang membuat produk hukum Islam senantiasa aktual dan aplikatif (shalihun likulli zaman wa makan). Diantara contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Islam mewajibkan suami memberi nafkah kepada istrinya. Dan syara’ tidak membuat definisi yang mengikat mengenai batasan (had) nafkah. Seberapa jumlah dan banyaknya, serta dalam bentuk apa saja. Karena tidak ada had dari syara, maka deninisi nafkah kembali kepada zaman dan adat istiadat yang bersangkutan.[6]
  4. Setiap ‘mustanbith’, hendaknya menempatkan diri dalam posisi berusaha menetapkan hukum selaras dengan Al-Qur’an dan al-Sunnah. Tetapi tidak boleh mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan al-Sunnah. Prinsip ini penting dikedepankan mengingat latar belakang ‘mustanbith’ yang meliputi tradisi keilmuan, rangkaian guru, lingkungan domisili dan lain-lain sangat berpengaruh pada produk hukum yang ditetapkan. Karenya, dalam kontek istinbath, walaupun berpijak pada dalil yang sama, sangat memungkinkan menghasilkan produk hukum yang berbeda.

[1]  Ijtihad dapat dilakukan secara pribadi oleh orang yang memiliki kapasitas sebagai mujtahid (fardy) dan dapat pula dilakukan secara kolektif (jama’i). untuk saat ini, mengingat komleksitas masalah yang harus dipecahkan, agaknya trend ijtihad secara kolektef lebih efektif dan lebih kapabel.

[2]  “Pengertian istinbath hukum di kalangan NU bukan mengambil hukum secara langsung dari sumber aslinya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah akan tetapi – sesuai dengan sikap dasar bermazhab – mentathibkan (memberlakukan) secara dinamis nash-nash fuqaha dalam konteks permasalahan yang dicari hukumnya. Sedangkan istinbath dalam pengertian pertama (cenderung ke arah perilaku ijtihad yang oleh ulama NU dirasa sangat sulit karena keterbatasan-keterbatasan yang disadari oleh mereka. Terutama di bidang ilmu-ilmu penunjang dan pelengkap yang harus dikuasai oleh yang namanya muj’tahid. Sementara itu, istinbath dalam pengertiannya yang kedua, selain praktis, dapat dilakukan oleh semua ulama NU yang telah mampu memahami ibarat kitab-kitab fiqih sesuai dengan terminologinya yang baku. Oleh karena itu, kalimat istinbath di kalngan NU terutama dalam kerja bahtsu masa’il-nya Syuriyah NU tidak populer karena kalimat itu telah populer di kalangan ulama NU dengan konotasinya yang pertama yaitu ijtihad, suatu hal yang oleh ulama Syuriyah tidak dilakukan karena keterbatasan pengetahuan. Sebagai gantinya dipakai kalimat bahtsul masa’il yang artinya membahas masalah-masalah waqi’ah (yang terjadi) melalui maraji’(referensi) yaitu kutubul-fuqaha (kitab-kitab karya para ahli fiqih).” KH. DR. A. Sahal Mahfuz, Bahtsul Masa’il dan Istinbath Hukum NU. http://www.nu.or.id

[3]  [ الموافقات – الشاطبي ] المؤلف : إبراهيم بن موسى اللخمي الغرناطي المالكي  الناشر : دار المعرفة – بيروت (4) : 106

تحقيق : عبد الله دراز

[4]  إنما تحصل درجة الاجتهاد لمن اتصف بوصفين أحدهما فهم مقاصد الشريعة على كمالها والثاني التمكن من الاستنباط بناء على فهمه فيها

[ الموافقات – الشاطبي ] المؤلف : إبراهيم بن موسى اللخمي الغرناطي المالكي  الناشر : دار المعرفة – بيروت (4) : 106

تحقيق : عبد الله دراز

 

[5]  Misalnya Al-Qur’an surat al-A’raf (7) : 31-33  :

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ . قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ .  قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan sabda Rasulullah Saw :

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( صِنْفَانِ مِنْ أهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَومٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا ، وإنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكذَا )) . رواه مسلم .

معنى (( كَاسِيَاتٌ )) أيْ: مِنْ نِعْمَةِ اللهِ (( عَارِيَاتٌ )) مِنْ شُكْرِهَا . وَقِيلَ مَعْنَاهُ : تَسْتُرُ بَعْضَ بَدَنِهَا ، وَتَكْشِفُ بَعْضَهُ إظْهاراً لِجَمَالِهَا وَنَحْوِهِ . وَقِيلَ : تَلْبَسُ ثَوباً رَقِيقاً يَصِفُ لَوْنَ بَدَنِهَا . وَمَعْنَى (( مائِلاَتٌ )) ، قِيلَ : عَنْ طَاعَةِ اللهِ وَمَا يَلْزَمُهُنَّ حِفْظُهُ (( مميلاَتٌ )) أيْ : يُعَلِّمْنَ غَيْرَهُنَّ فِعْلَهُنَّ المَذْمُومَ . وَقِيلَ : مَائِلاَتٌ يَمْشِينَ مُتَبَخْتِرَاتٍ ، مُمِيلاَتٌ لأَكْتَافِهِنَّ ، وقيلَ : مائلاتٌ يَمْتَشطنَ المِشْطَةَ المَيلاءَ : وهي مِشطةُ البَغَايا ، و(( مُميلاتٌ )) يُمَشِّطْنَ غَيْرَهُنَّ تِلْكَ المِشْط   (( رُؤوسُهُنَّ كَأسْنِمَةِ البُخْتِ )) أيْ : يُكَبِّرْنَهَا وَيُعَظِّمْنَهَا بِلَفِّ عِمَامَةٍ أَوْ عِصَابَةٍ أَوْ نَحْوِهَا .

[6]  تلقيح الافهام العلية بشرح القواعد الفقهية